Kamis, 03 September 2009

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 2, Juli 2009

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 2, Juli 2009 hal. 79-89


ORNAMEN BANGUNAN RUMAH TINGGAL

DI KAMPUNG KEMASAN GRESIK


Nur Qomariyyah, Antariksa, Ema YunitaTitisari

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jalan MT. Haryono 167, Telp. 0341-567486, Malang 65145, Indonesia

e-mail: nurqomariyyah.archlima@gmail.com; riarch_lima@yahoo.com


ABSTRAK

Gresik merupakan salah satu kota pantai utara Pulau Jawa yang memiliki keistimewaan berupa kota multi etnis, sehingga meninggalkan artefak arsitektur yang unik, khas dan beragam. Artefak yang merupakan warisan budaya (cultural heritage) kawasan kota lama dengan berbagai keanekaragaman arsitektur bangunannya. Salah satu kawasan kota lama adalah Kampung Kemasan yang terletak di sekitar pelabuhan dan pusat Kota Gresik. Bangunan rumah tinggal di Kampung Kemasan memilki karakter kuat yang unik dan menarik, yakni bentuk ornamen dengan pengaruh budaya sesuai dengan tingkat ekonomi, sosial, budaya yang terjadi di kalangan masyarakat pada waktu itu. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis jenis dan karakteristik ornemen bangunan rumah tinggal di Kampung Kemasan serta menganalisis keterkaitan budaya yang mempengaruhi atau membentuk ornamen pada rumah tinggal tersebut. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan historis. Teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara dan studi pustaka. Jenis dan karakteristik ornamen pada rumah tinggal di Kampung Kemasan memiliki perbedaan dengan rumah tinggal pada umumnya. Hal tersebut terlihat dengan adanya beragam ornamen yang unik dan khas pada atap bangunan, badan bangunan dan kaki bangunan. Ornamennya memiliki bentuk dan motif geometris dan flora mendapat pengaruh budaya Cina, Arab dan Eropa.

Kata Kunci: ornamen, budaya, rumah tinggal


ABSTRACT

Gresik is one of the north seaside cities in Java Island which has an area of especially resembling multi ethnic’s city and left unique architecture artifact with particular and various diverse. The artifact is consisting of a cultural heritage in old city area with any of building style architecture. One part of the old city areas is Kampong Kemasan which placed around the area of harbor and in the center of Gresik city. The building houses in Kampong Kemasan have an unique characteristic and remarkable, as the form of ornaments with culture influences according to the economic level, social, culture which appear in the circles of community at that time. The aim of this study is to identified and to analyze a kind of ornament characteristic building houses in Kampong Kemasan and to analyze the interrelatedness culture which influences or formed the ornaments of the building houses. The method which used in this study is qualitative description through historical approach. The technical of data collecting are field conservation, interview, and literary study. The kind and characteristic ornaments of building houses in Kampong Kemasan have difference unique and special ornaments with other building houses regularly. The difference is shown with a various unique specific ornaments in the roof, body, and foot of the buildings. The form and motif is geometrical and floral with cultural influences from Chinese, Arabians and European.

Keywords: ornaments, culture, house


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 2, Juli 2009 hal. 90-99


PELESTARIAN KAMPUNG KEMASAN KOTA LAMA GRESIK


Cahya Riski, Antariksa, Surjono

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjend Haryono No, 167 Malang 65145 - Telp. (0341) 567886

e-mail: wiranegara_85@yahoo.com


ABSTRAK

Kawasan Kota Lama Gresik, merupakan cikal bakal terbentuknya Kabupaten Gresik yang memiliki nilai sejarah tinggi serta kekhasan kawasan dilihat dari aspek fisiknya. Pergeseran fungsi kawasan dari pusat industri pada masa kolonial Belanda menjadi kawasan permukiman saat ini merupakan hal yang melatarbekalangi studi ini. Tujuan studi ini adalah untuk mengidetifikasi karakteristik fisik (pola guna lahan dan bangunan kuno) dan non fisik (sosial, ekonomi, dan hukum) yang membentuk kawasan Kota Lama. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif untuk mengetahui karakteristik fisik dan non fisik kawasan Kota Lama, dan metode evaluatif untuk mengevaluasi bangunan kuno potensial dengan penilaian makna kultural. Hasil pembobotan dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu bangunan kuno potensial tinggi, bangunan kuno potensial sedang, dan bangunan kuno potensial rendah. Hasil studi studi menunjukkan bangunan kuno yang termasuk potensial tinggi berjumlah 26 bangunan, potensial sedang berjumlah 36 bangunan, dan potensial rendah berjumlah 78 bangunan.

Kata kunci: sejarah Gresik, pelestarian, bangunan kuno, kawasan Kota Lama


ABSTRACT

The district of old city Gresik is the first beginning of Gresik regency possess a high historical value and unique area based on its physical aspect. The transitioned of function area from centre of industry in Dutch colonial era be located a settlement area is an entity that encourage this study. The purpose of this study is to identification physical (land use and old-fashioned building) and non physical (social, economic, and law) characteristics that shaped old city district. Methods that used in this study are descriptive method to know physical and non physical characteristics of the old city and evaluative method to evaluate potency of old-fashioned building with cultural meaning scoring. The scoring result is classified in three categories, which is a high potential building, medium potential building, and low potential building. The result of this study shows that the old-fashioned building counted to high potential are 26 buildings, medium potential are 36 buildings, and low potential are 78 buildings.

Key word: history of Gresik, conservation, old-fashioned building, old city district


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 2, Juli 2009 hal. 100-119


VITALITAS KAWASAN KOTA DKI JAKARTA


Amalia Nur Latifah, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145; Telp (0341) 567886

e-mail: amalia.nurlatifah@yahoo.com


ABSTRAK

Kawasan Kota merupakan salah satu kawasan bersejarah yang berada dalam wilayah Pemprov DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi dan tingkat vitalitas Kawasan Kota, serta penyebab utama menurunnya vitalitas kawasan tersebut. Pengkajian kondisi dan tingkat vitalitas kawasan menggunakan metode analisis deskriptif-evaluatif. Sementara pengkajian faktor utama penyebab menurunnya vitalitas kawasan menggunakan metode analisis evaluatif (analytic hierarchy process). Vitalitas Kawasan Kota ditinjau melalui aspek fisik dan aspek non fisik dengan menggunakan 12 variabel. Hasil penelitian menunjukkan Kawasan Kota berada pada tingkat vitalitas sedang, atau dalam kondisi hidup tapi kacau. Dari hasil perhitungan Analityc Hierarchy Process, kepedulian pemerintah ditentukan sebagai faktor non fisik utama, dan sistem transportasi ditentukan sebagai faktor fisik utama penyebab menurunnya vitalitas Kawasan Kota DKI Jakarta.

Kata kunci: kawasan bersejarah, vitalitas kawasan


ABSTRACT

City area is one of the historical sites that exist in the area of DKI Jakarta Province. The aims of this research are to identify the condition and vitality area level, and to identify the main factor of vitality area decreases. The study of condition and vitality area level is used descriptive-evaluative analysis method, while the study of the main factor of vitality area decreases used analysis-evaluative method (analytic hierarchy process). The vitality of city area is observed through physical and non-physical aspect using 12 variables. The result shows that Kota area is in the mid-level of vitality or in other word in a condition of screw living. From the Analytic Hierarchy Process calculate, the government attention is pointed as the principal non-physical factor, and transportation system is pointed as the principal physical factor that reason the DKI Jakarta’s area vitality decrease.

Key words: historical site, area vitality


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 2, Juli 2009 hal. 120-129


PERMUKIMAN TRADISIONAL SUKU SASAK DI DUSUN SENARU


Tody Auliya, Surjono, Antariksa

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886

e-mail:givemea_wish@yahoo.com


ABSTRAK

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kawasan Dusun Senaru sebagai kawasan permukiman tradisinal Suku Sasak dengan menggunakan metode deskriptif-eksploratif. Hasil yang diperoleh dari studi ini adalah karakteristik Dusun Senaru dalam hal kebijakan merupakan zona kultural, merupakan kawasan pertanian, memiliki citra kawasan yang jelas. Masyarakat berprofesi sebagai petani (90%), zona aktivitas bekerja 500-1 km (94%), pendapatan tidak tetap (100%), aksesibilitas yang baik, terdapat hubungan keluarga anak-ayah dalam pola hunian (53%). Adanya konsep senioritas dalam pola permukiman, dan pembentukan struktur ruang permukiman berdasarkan ritual budaya masih mengakar, masih ada pembagian orientasi ruang, dan persepsi wisatawan menyatakan perlu pelestarian (93%).

Kata kunci: sosial-budaya, konsep filosofis, kearifan lokal


ABSTRACT

The aims of this study is to identify characteristic of Senaru village area as Sasaknese traditional-settlement used descriptive-explorative methods. The results obtain from the study are characterized Senaru village in the policy of a cultural zone, the area is agriculture, have an obvious image of the area. People work as farmers (90%), zone activity work 500-1 km (94%), and fee not fixed (100%), accessibility is good, there are link father-child families in the residential patterns (53%). The concept seniorities in settlement patterns, and the establishment of settlements based on structure of space ritual culture still strong, still have the division of space orientation, and perceptions of tourist’s states need to be conserving (93%).

Keywords: social-culture, philosophic concept, local wisdom


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 2, Juli 2009 hal. 130-141


PELESTARIAN KAWASAN BERSEJARAH

ISTANA TAMAN AIR SOEKASADA

KARANGASEM BALI


W.A. Wardhana, Antariksa, Tunjung W. Suharso

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886

e-mail: turbo_dhan@yahoomail.com


ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik lama sosial budaya dan fisik serta perubahan dari kawasan bersejarah Istana Taman Air Soekasada. Metode yang digunakan pada studi ini adalah kulitatif-historis-deskriptif. Hasil studi menunjukan fungsi kawasan sebagai balai budaya terbesar, monumen persahabatan dan permukiman berkonsep muslim mulai terancam hilang secara permanent. Kegiatan kesenian budaya yang bertahan adalah yang berlatar belakang upacara religi. Penghasilan warga banjar muslim dari sektor laut dan pertanian kini tidak mencukupi karena harus menopang model masyarakat yang telah mengalami gejala perubahan menuju masyarakat berkebutuhan urban. Sebagai dampaknya tingkat kesejahteraan banjar muslim sangat rendah. Perubahan pada status lahan terutama terjadi akibat adanya land reform pada tahun 60-an. Sebagai akibatnya kepemilikan lahan kawasan bersejarah kini sebagian besar beralih ke tangan individu. Pada etnisitas tata ruang fisik Hindu, perubahan terjadi dalam berbagai macam kondisi kerusakan alam atau akibat tangan manusia. Pada etnisitas tata ruang muslim, perubahan terutama terjadi pada orientasi tata ruang dan bangunan tradisional yang beralih menjadi modern. Perubahan sarana dan prasarana kawasan yang paling menonjol adalah kehadiran sebuah komplek villa yang merusak fungsi spiritual di dalam kawasan istana.

Kata kunci: pelestarian kawasan bersejarah, istana/keraton, perubahan kawasan.


ABSTRACT

The aims of this study are to identify the old socio-cultural and physical characteristi changes from palace area of Istana Taman Air Soekasada. The methode of this study is used descriptive-historical-qualitative. The results of this study shown that the area’s function such as the biggest traditional customs, the monument of friendship and the Moslem settlement concepts are threatened to be extinct. Only the arts exhibition with religion motivation can be existed from a time. Villager income from fishery sector and farms not enough to any further extent to suports their own needs since they transformed into urban villagers models. The effect is their wealhty banjar Moslem being decreased. The changes of lands owner in historical area’s site occur because lands reformation in 60-era. The effects are almost of all certificates moving into individual person. The ethnicity of Hindus phsycal space change comes because varians damages on it buildings, caused by nature or human hand. The ethnicity of Moslems physical space (the village) change comes in the orientation of space it self, that transforming the traditional buildings to modern buildings. The changing of structures and instruments area’s is mainly be present of the moderns villa’s complex that destroy the spiritual function of the palace site.

Keywords: conservation of historical area, palace, area changes.


Copyright © 2009 by Antariksa

Minggu, 29 Maret 2009

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 1-20


TIPOLOGI RAGAM HIAS RUMAH TINGGAL KOLONIAL BELANDA

DI NGAMARTO - LAWANG


Putri Ayu Pertiwi, Galih Widjil Pangarsa, Antariksa

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145

e-mail: niva_princess@yahoo.com


ABSTRAK

Lawang merupakan salah satu kawasan yang mendapat pengaruh kolonialisasi, sehingga memiliki peninggalan bangunan kolonial paling banyak (skala kawasan) di Malang Raya sampai sekarang. Salah satunya adalah kawasan permukiman yang terletak di pusat Kota Lawang tepatnya di belakang Stasiun Kereta Api Lawang, yaitu Ngamarto. Peniruan bentuk bangunan kolonial telah mempengaruhi rumah tinggal non Eropa. Hal yang wajar apabila pemilik berusaha menampilkan identitas dirinya pada tampilan bangunan atau menghias bentuk rumahnya. Melalui bentukan bangunan dapat diketahui gaya yang berkembang di Ngamarto saat itu, salah satunya melalui elemen penyusun bangunan, yaitu “riasan” yang merupakan seni dan unsur estetis sebuah bangunan. “Riasan” bangunan berupa ragam hias (ornamen) yang berkembang seiring dengan perkembangan arsitektur pada masa itu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis ragam hias yang digunakan pada rumah tinggal kolonial dan menganalisis tipologi ragam hias rumah tinggal kolonial di Ngamarto. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan eksploratif dengan metode purpossive sampling pada pemilihan kasus sehingga ditemukan bahwa tipologi bangunan rumah tinggal kolonial dikelompokkan berdasarkan gaya atau langgam bangunan. Rumah-rumah kolonial tersebut berkembang sekitar tahun 1850-1942. Selama kurun waktu tersebut terdapat 4 buah gaya yang digunakan, yaitu Voor 1900, NA 1900, Romantiek, dan tahun 1915-an. Ragam hias terdapat pada bagian kepala, badan, dan kaki bangunan (bagian luar dan dalam).

Kata Kunci: ragam hias, rumah tinggal kolonial, tipologi.


ABSTRACT

Lawang is one of area that influenced by the colonialization so that has the bigger number of colonial building (at scale area) in Malang Raya until right now. The one is housing area that located in the center of Lawang exactly behind theTranstation of Lawang that called as Ngamarto. The imitation of colonial building’s shape has influence the non Europ’s house. This thing became usual if the owner trying to performance his or her identity at the building appearance or decorate the shape of building. Through the shape of building can be knowed the style that has develop at Ngamarto at that time, those through the buildins arranger’s elements that called as “make up” that became the art and the estetic element in a building. The “make up” of building can be perform as element that develop as the develop of architecture at that time. The purpose of this study is to identifying the varient of ornament that being used in the colonial house and analizing the tipology of the house building’s ornament at Ngamarto. The methodthat being used for this study are descriptif and exploratif method by the purpossive sampling method for the case choice so that being found that the tipology of colonial house building can be classed based on the style of building. Colonial houses develop in 1850’s until 1915’s. As long as the period there been developed four style that being used at colonial house, they are Voor 1900, NA 1900, Romantiek, and 1915’s. The ornament can be found at the head section, body section, and feet section building, whether inside or outside of building.

Key word: the ornament, colonial’s house, tipology.


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 21-33

PELESTARIAN KAWASAN PECINAN KOTA PASURUAN


Ika Puspitasari, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886

E-mail: ikaniyy@yahoo.co.id


ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik Kawasan Pecinan ditinjau melalui elemen pembentuk kawasan, sejarah, sosial budaya, tinjauan kebijakan, dan bangunan kuno. Kemudian mengevaluasi faktor penyebab perubahan bangunan kuno dan lingkungan di Kawasan Pecinan Pasuruan. Metode yang digunakan memakai pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan evaluatif. Landmark di Kawasan Pecinan berupa klenteng, node berupa simpul kegiatan, district berupa perdagangan, path berupa jaringan jalan dengan pola grid. Perkembangan kawasan pada masa kolonial Kawasan Pecinan dipengaruhi oleh politik dan sosial budaya. Pada masa setelah kemerdekaan dipengaruhi oleh variabel politik dan ekonomi, pada masa orde baru dipengaruhi oleh politik, ekonomi, dan sosial budaya, sedangkan pada masa setelah reformasi, dipengaruhi oleh variabel ekonomi dan sosial budaya. Bangunan yang mengalami perbaikan sebesar 39%, bangunan yang mengalami penambahan sebesar 26%, dan bangunan yang mengalami perombakan sebesar 35%. Penyebab perubahan bangunan kuno diperoleh empat faktor, faktor pertama terdiri atas variabel lokasi dan perubahan fungsi. Faktor kedua terdiri atas variabel perangkat hukum dan status kepemilikan. Faktor ketiga terdiri atas variabel keterawatan, usia, dan bahan bangunan tidak tahan lama. Faktor keempat terdiri atas faktor perubahan selera dan ketidakselarasan desain.

Kata kunci: Karakteristik, perubahan bangunan dan lingkungan, Pecinan.


ABSTRACT

The aims of this study are to identify and to analyze the changes of characteristic of Pasuruan’s China Town through element of region, history, sociocultulture, law consideration, and vernacular architecture. Then to evaluate the causes of vernacular architecture and environment change of Pasuruan’s China Town. The method used in this study is descriptive and evaluative with a quantitative approach. the landmark is China temple, Node is a center of activity, the district is the trading, path is roadways with grid systems. The developments of its area at colonial period are caused by politics and socio culture. After independent are caused by politics and economic, sociopolitical order in Indonesia since 1965 are caused by politics, economic, and socio culture, and reformation period are caused by economic and socio cultural. The architecture fixed is 39%, the architecture added is 26%, and the architecture renovated is 35%. The causes of changes of vernacular architecture consist of four factors; the first factors are location variable and function. The second factors are sets of law variable and ownership status. The third factors are treatment, age, and material building that is not long lasting. The fourth factors are changes of desire factor and incapability design.

Keywords: Characteristics, change of architecture and environment, China Town.



arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 34-50

PELESTARIAN STASIUN KERETA API KOTA BARU MALANG


Artika Tri Widyanti, Ema Yunita Titisari, Antariksa

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jalan Mayjen Haryono 167, Malang 65145 Telp. (0341) 567486

E-mail: x_cazonic@yahoo.com

ABSTRAK

Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan menemukan karakter bangunan Stasiun kereta api Kota Baru Malang dan kemudian menemukan strategi pelestarian yang dapat digunakan pada bangunan tersebut. Studi ini adalah deskriptif dengan menggunakan tiga macam metode pendekatan, yaitu metode deskripsi analisis, metode evaluatif (pembobotan) dan metode developmen. Penetuan sampel digunakan teknik Simple random sampling atau pengambilan sampel acak sederhana, yaitu sebuah sampel yang diambil, sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Dalam studi ini ditemukan bahwa karakter bangunan Stasiun kereta api Kota Baru Malang ditentukan oleh beberapa elemen, yaitu antara lain gaya bangunan, atap bangunan yang menonjol, elemen-elemen pembentuk fasade/selubung bangunan (dinding, pintu, jendela/bukaan, bentuk massa bangunan, warna, ornamen bangunan, kolom, pengolahan vertikal dan pengolahan horisontal) dan juga dari segi interior bangunan tersebut. Setelah ditemukan karakter bangunan tersebut, maka digunakan metode evaluatif dan ditetapkan beberapa elemen bangunan yang mempunyai nilai potensial tinggi, sedang dan rendah. Dari hasil penetapan ditentukan strategi pelestarian yang sesuai dengan kondisi masing-masing elemen bangunan tersebut.

Kata kunci: strategi, pelestarian, Stasiun Kota Baru

ABSTRACT

The aims of this study is to analyze and find out the characteristic of Malang City Train Station building and also finding strategy that can be used to preserve the building. The research are based on descriptive study that used three different kind of method, the method are analysis descriptive method, evaluative method and also development method. The sample taking are using the simple random sampling technique, we took a sample that somehow in every units of research have the same opportunities to take as a sample. This research found that the characteristic of Malang City Train Station are based upon a few elements, such as building style, roof tops style, the elements that build the building (wall, doors, window, color, the building ornament, column, vertical manufacture and horizontal manufacture) and also the building interiors. After finding the building characteristic and with the evaluative method can find and decided a few of building elements that has high potential value, average and low potential value. Based on result of decide will curtained the strategy of preservation which suitability with the condition of each building elements.

Key words: strategy, preservation, Kota Baru Train Station


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 51-64

TIPOLOGI WAJAH BANGUNAN RUMAH TINGGAL KOLONIAL

DI NGAMARTO - LAWANG


Hany Perwitasari, Galih Widjil Pangarsa, Antariksa

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 Telp. 0341-567486

E-mail: hanyperwitasari@yahoo.com


ABSTRAK

Kawasan Lawang memiliki potensi untuk menjadi sebuah kota pariwisata yang indah dan menarik. Daerah Lawang, merupakan daerah yang paling banyak memiliki bangunan kolonial di Malang Raya sampai saat ini. Bangunan kolonial masih banyak ditemukan di Lawang, terutama di daerah belakang Stasiun Kereta Api Lawang, yaitu di daerah Ngamarto, yang ditengarai berkembang pada pertengahan abad ke-19. Wajah bangunan atau muka bangunan merupakan hal yang pertama kali akan dilihat pada saat seseorang melihat atau mengamati suatu bangunan. Wajah bangunan rumah tinggal kolonial merupakan bagian yang paling penting, karena memiliki ciri-ciri spesifik yang dapat menjadi petunjuk tentang kebudayaan dan status sosial pemiliknya, kejayaan arsitektur kolonial, dan perkembangannya, yang turut memperkaya arsitektur nusantara. Tujuan dari penelitian dengan metode deskriptif dan eksploratif yang menggunakan metode purpossive sampling, untuk dilanjutkan dengan analisa dengan metode deskriptif-kualitatif terhadap wajah bangunan rumah tinggal kolonial yang ada di Kawasan Ngamarto - Lawang ini, adalah untuk mengidentifikasikan dan menganalisis tipologi wajah bangunan pada bangunan rumah tinggal kolonial di Kawasan Ngamarto - Lawang.

Kata Kunci: tipologi, wajah, rumah tinggal, kolonial


ABSTRACT

Lawang District, have a potention to be a beautiful and interesting city tourism. Untill now, Lawang District still have a big number of colonial building for Malang’s scope. Colonial building in Lawang can be found, especially at area behind The Train Station of Lawang, that called as Ngamarto, which is predicted was expanded in the middle of 19th century. Facade of the building, it’s the first thing that will be seen, when someone looking at or seeing a building. facade of colonial house building become an important part of the building, because it has a specific characteristic, that can be a clue of the culture and the social status of the owner, about the golden age of colonial’s architecture, and about it’s growth, that enriches the national’s architecture. The purpossive of reseach that use descriptive and eksplorative methods which use purpossive sampling method, that continued with analyzing by descriptive-kualitative method to the facade of colonial houses building at Ngamarto, Lawang, are to identifying and analyzing the tipology of Netherland’s Colonial House’s facade that has been found at Ngamarto, Lawang.

Keywords: tipology, facade, Hous, Colonial



arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 1, Maret 2009 hlm. 65-78

PELESTARIAN KAWASAN PECINAN KOTA BOGOR


Septiana Suryaningrum, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145; Telp (0341) 567886

email: septiana.suryaningrum@gmail.com


ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perkembangan lingkungan dan bangunan, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas bangunan kuno, serta menentukan tindakan pelestarian dalam melindungi lingkungan dan bangunan kuno. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan evaluatif. Hasil penelitian menunjukkan faktor penyebab utama penurunan kualitas lingkungan di pecinan adalah perubahan guna lahan, dan faktor penyebab utama penurunan kualitas bangunan adalah kurangnya perawatan bangunan. Tindakan pelestarian lingkungan di kawasan pecinan lebih menitikberatkan pada pengoptimalan fungsi kawasan guna mengurangi efek perubahan lahan akibat tekanan pembangunan berbasis ekonomi di kawasan sekitar pecinan. Pelestarian bangunan kuno yang di kawasan pecinan dibagi menjadi tindakan preservasi (8 bangunan), konservasi (57 bangunan) dan rehabilitasi (15 bangunan).

Kata kunci: Faktor-faktor, Penurunan kualitas bangunan kuno, pelestarian

ABSTRACT

The aims of this study are to identify the character of ancient environment and building, identified the factors caused degradation of ancient building quality, and determines the act of ancient environment and building protection. The method used in this study are descriptive and evaluation. The result of this study shows that the prime factor that caused degradation of environment quality is land use changed. The prime factor that caused degradation of building quality is less of building maintenance. The act to protect the ancient china town are optimation of environment function for minimize a land use changed effect caused by economic development around china town. The act to protect the ancient building are preservation (8 building), conservation (57 building), and rehabilitation (15 building).

Keywords: Factors, degradation of ancient building quality, protection


Copyright © 2009 by Antariksa


Sabtu, 15 November 2008

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 135-144

PELESTARIAN KAWASAN BERSEJARAH
KESULTANAN MELAYU RIAU-LINGGA DI PULAU PENYENGAT KEPULAUAN RIAU


Risqiana Dani, Antariksa, Septiana Hariyani

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl Mayjend Haryono No. 167 Malang 65145, Telp. (0341) 551611-551615
E-mail: eqi_plano@yahoo.com

ABSTRAK

Penurunan apresiasi lingkungan terhadap karakter lokal di kawasan bersejarah Pulau Penyengat, baik dari segi budaya masyarakatnya maupun peninggalan bersejarah menjadi suatu alasan untuk melakukan studi ini. Studi ini bertujuan mengidentifikasi karakter khas Pulau Penyengat sebagai kawasan bersejarah berdasarkan identifikasi elemen pembentuk citra kawasan, menganalisis penyebab perubahan dan kerusakan bangunan dan lingkungan bersejarah berdasarkan faktor fisik dan non fisik serta mengevaluasi kinerja pelestarian yang sudah dilaksanakan berdasarkan penilaian makna kultural bangunan. Didapatkan bahwa penyebab utama dari perubahan dan kerusakan bangunan dan lingkungan bersejarah di Pulau Penyengat adalah kurangnya perawatan (faktor fisik) dan juga komitmen pemerintah (faktor non fisik). Berdasarkan penilaian makna kultural dapat dikelompokkan bangunan bersejarah ke dalam tiga kelompok dengan rincian: bangunan bersejarah potensial tinggi sebanyak tujuh bangunan dan diarahkan untuk preservasi, bangunan bersejarah potensial sedang sebanyak lima bangunan dan diarahkan untuk konservasi serta bangunan bersejarah potensial rendah sebanyak delapan bangunan dan diarahkan untuk rehabilitasi.
Kata kunci: Pelestarian, kawasan bersejarah, bangunan bersejarah

ABSTRACT

The degrading of environtment appreciation to local character at the historical site in Penyengat Island, from the culture of the society side as well as its historical remains has become one good reason for conducting this study. The targets of this study first is to identify the typical character of Penyengat Island as historical site based on identification element form the site’s image. Second, to analyze the causes of the changes and the damage of building and historical site based on their physical and non physical factors. The last is to evaluate the performance of the conservation that has been conducted based on the evaluation of the cultural meaning of building. It is found out that the main cause of the changes and the damage of building and historical site in Penyengat island is the lack of conservation (physical factor) and goverment’s commitment (non physical factor). Regarding to the evaluation of the cultural meaning of building, historical buildings can be gruoped into three groups with the following details: seven high potential historical buildings are recommended for preservation, five middle potential hirtorical buildings are recommended for conservation, eight less potential historical buildings are recommended for rehabilitation.
Keywords: conservation, historical site, historical buildings.



arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 145-156

PELESTARIAN KAWASAN
EKS PUSAT KOTA KOLONIAL LAMA SEMARANG

Perawati Kesuma Dewi, Antariksa, Surjono
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl Mayjend Haryono No, 167 Malang 65145
- Telp. (0341) 567886
E-mail: im_inDpendent@yahoo.com

ABSTRAK

Kawasan Kota Lama Semarang merupakan cikal bakal terbentuknya Kota Semarang, yang memiliki nilai sejarah yang tinggi dan kekhasan kawasan dilihat dari aspek fisiknya. Pergeseran fungsi kawasan dari pusat pemerintahan pada masa kolonial Belanda menjadi kawasan mati saat ini merupakan hal yang melatarbekalangi studi ini. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik fisik (guna lahan, bangunan kuno, sirkulasi dan parkir, serta ruang terbuka) dan non fisik (sosial, ekonomi, budaya, hukum, konsep rencana, organisasi serta pendanaan) yang membentuk kawasan Kota Lama, serta mengevaluasi kinerja kegiatan pelestarian yang telah dilaksanakan di kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif untuk mengetahui karakteristik fisik dan non fisik kawasan Kota Lama; dan metode evaluatif untuk mengevaluasi kinerja kegiatan pelestarian dengan importance performance analysis dan penilaian makna kultural. Hasil studi menunjukkan bahwa kinerja pelestarian yang harus diprioritaskan dalam penanganannya adalah sirkulasi dan parkir serta ruang terbuka (fisik), dan sosial, ekonomi, budaya, hukum, organisasi serta pendanaan (non fisik). Bangunan kuno yang termasuk potensial tinggi berjumlah 20 bangunan, potensial sedang berjumlah 24 bangunan, dan potensial rendah berjumlah 49 bangunan.
Kata kunci:
pelestarian, bangunan kuno, kinerja, kawasan Kota Lama


ABSTRACT

Semarang Old city district is the first beginning of Semarang City which have high historical value and unique area based on its physical aspect. Transitioned its area function from centre of government in Dutch colonial era be a death area is a thing that motivate this study. The purpose of this study is to identification physical (land use, old-fashioned building, circulation and park, and open space) and non physical (social, economic, culture, law, concept of plan, organization, and funding) characteristics of Semarang Old City that shaped Semarang Old City district, and also to evaluate progress conservation activities that have been applied on that district. Methods that be used in this study are descriptive method to know physical and non physical characteristics of Semarang Old City; and evaluative method to evaluating progress conservation activities with importance performance analysis (IPA) and cultural sense scoring. The result of this study show that progress conservation that must be priority on application is circulation and park; and open space (for physical characteristics), and social, economic, culture, law, organization, and also funding (non physical characteristics). The old-fashioned building that counted to high potential are 20 buildings, medium potential are 24 buildings, and low potential are 49 buildings.
Key word:
conservation, old-fashioned building, progress, Old City district


arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 157-171

TIPOLOGI RANCANGAN PINTU DAN JENDELA RUMAH TINGGAL KOLONIAL BELANDA DI KAYUTANGAN MALANG

Nova Juwita Hersanti, Galih Widjil Pangarsa, Antariksa
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Telp. 0341-567486
E-mail: vatati88@yahoo.com

ABSTRAK

Studi ini dilakukan sebagai salah satu kepedulian nyata terhadap konservasi bangunan rumah tinggal kolonial Belanda. Lokasi studi di perkampungan kota, yaitu di belakang koridor Jl. Jendral Basuki Rahmat, Malang. Pintu dan jendela merupakan elemen arsitektur yang penting dalam sebuah hunian. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mendeskripsikan tipologi rancangan pintu dan jendela rumah tinggal kolonial Belanda di Kayutangan Malang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan tipologi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, kuisioner, pengukuran, dan rekaman foto. Tipologi dianalisis berdasarkan aspek ruang, bentuk, dan sistem teknologi struktur dan konstruksinya. Hasil studi menunjukkan bahwa hirarki ruang publik-privat pada sebuah rumah tinggal kolonial Belanda mempengaruhi rancangan pintu dan jendela. Tipe, ornamen, dan ukuran pintu dan jendela setiap ruang memiliki karakter. Bentuk geometris banyak digunakan dalam rancangan bentuk pintu dan jendela rumah tinggal kolonial Belanda di Kayutangan Malang. Kayu jati adalah material utama yang digunakan untuk rancangan pintu dan jendela.
Kata kunci
: rumah tinggal kolonial Belanda, pintu, dan jendela.

ABSTRACT

This research was carried out as one the real concerns for the conservation of Dutch colonial dwellings. The research sites are in kampong’s urban space, focused on behind the corridor of JPL. Jendral Basuki Rahmat, Malang. Door and window are the most important architecture element for a residence. The research is aimed to identify, to analyze, and to describe typology of door and window designs of the Dutch colonial dwellings at Kayutangan Malang. The research method is using descriptive qualitative method with typology approach. The collecting data were a performed by using observation, interview, questionnaire, measurement, and taking some photographs. Typology was analyzed based on the aspects of room, form, and structure technology system and its construction. The result of this study shows that the hierarchy of public-private room on the Dutch colonial dwellings influence door and window designs. Types, ornaments, and the measure of door and window in every room have their own character. Geometrical style is much used in the door and window form designs for Dutch colonial dwellings at Kayutangan Malang. Jati wood is the main material used for the door and window designs.
Key words: Dutch colonial dwellings, door, and window.


arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 172-189

POLA TATA RUANG PERMUKIMAN TRADISIONAL
GAMPONG
LUBUK SUKON, KABUPATEN ACEH BESAR

Issana Meria Burhan, Antariksa, Christia Meidiana
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886
Email : isana_burhan@hotmail.com

ABSTRAK

Sejak lama disadari bahwa sistem sosial dan budaya memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pola tata ruang permukiman di Aceh. Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi karakteristik sosial budaya masyarakat Gampong Lubuk Sukon, dan mengidentifikasi karakteristik pola tata ruang permukiman yang terbentuk, serta menganalisis pola tata ruang permukiman tradisional Gampong Lubuk Sukon yang terbentuk akibat pengaruh sistem sosial budaya masyarakatnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif. Dari data yang dikumpulkan dari observasi lapangan, kuisioner dan wawancara, menunjukkan bahwa konsep keruangan makro yang terbentuk dari tatanan fisik lingkungan hunian memperlihatkan adanya pembagian ruang permukiman berdasarkan guna lahan, yaitu tempat hunian di bagian tengah Gampong (tumpok), fasilitas umum di bagian agak luar dari Gampong (ujong), dan lahan pertanian di bagian luar area permukiman (blang). Pada struktur ruang yang terbentuk, meunasah menjadi pusat orientasi Gampong. Pada skala yang lebih mikro, pola tata ruang permukiman masyarakat Gampong Lubuk Sukon terbentuk berdasarkan sistem kekerabatan dari pihak perempuan. Dalam hal ini, rumah orangtua menjadi bangunan inti (pusat) dari kelompok hunian suatu keluarga. Selanjutnya, dalam tataran rumah dan pekarangan, seuramoe keue (serambi depan) menjadi pusat dari bangunan rumoh Aceh. Struktur ruang pada rumoh Aceh menunjukkan dualisme antara ajaran Islam yang cenderung patriarkal, dengan adat peunulang Aceh yang bersifat matriarkal.
Kata kunci
: Pola tata ruang, permukiman tradisional Aceh, sosial budaya

ABSTRACT

It has been realize that socio-cultural system has an important role in configuring the settlement spatial pattern. The aim of this study is to seek understanding of the socio-cultural characteristic of the community in Gampong Lubuk Sukon, and to analyse the traditional spatial pattern formed by the socio-cultural aspect. The method used in this study is descriptive-evaluative. All data was collected through field observation, questionaire and in-depth interview. The study showed that the spatial concept formed by physical characters of the settlement, indicates a division of land us; housing area is located in the middle of settlement called tumpok, public facility is located not far from the housing area called ujong, and farming area is located outside of the housing area called blang. The spatial structure formed based on the community activities and religious rituals concluded that meunasah is the center of settlement. In micro context, the spatial pattern of traditional settlement in Gampong Lubuk Sukon is formed by female kinship groups, in which the parent’s house become the centre. More specifically, in the context of single unit building, it is identified that seuramoe keue is the centre of the house. The spatial structure in Acehnese traditional house showed that there is a dualism between the partiarchal Islamic teachings and the matriarchal peunulang custom in Aceh.
Key words: Spatial pattern, Acehnese traditional settlement, socio-cultural


arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 190-205

PELESTARIAN KAWASAN PUSAT KOTA LAWANG

Pamela Dinar Rahma
, Antariksa, Turniningtyas
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886
E-mail : by_pam@yahoo.co
m

ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik bangunan dan lingkungan, serta mengidentifikasi perubahan, serta mengevaluasi penyebab perubahannya. Metode yang digunakan, yaitu metode deskriptif dan evaluatif. Berdasarkan hasil analisis karakteristik kawasan studi merupakan pusat kegiatan masyarakat dengan intensitas tinggi yang didominasi dengan kegiatan perdagangan dan jasa, selain itu terdapat 84 bangunan kuno yang letaknya menyebar dengan gaya bangunan empire style, art deco dan neo klasik. Berdasarkan hasil analisis tingkat perubahan lingkungan yang dibagi empat periode, terjadi pengurangan pada jumlah landmark, semula terdapat tiga buah landmark, saat ini terdapat sebuah landmark, yaitu Hotel Niagara. Node saat ini adalah Pasar Besar Lawang, Stasiun Lawang dan Stadion Lawang. Path merupakan jalur pergerakan atau sirkulasi dalam kawasan yang terdiri dari path mayor dan path minor. Perubahan bangunan kuno, dikategorikan berdasarkan kondisinya, yaitu tetap, penambahan dan perubahan kecil, dengan rincian mengalami penambahan sebanyak 29 bangunan, perubahan kecil 24 bangunan, dan 31 bangunan tidak mengalami perubahan. Hasil analisis sinkronik-diakronik, didapatkan bahwa kawasan mulai mengalami perubahan pada masa penjajahan Belanda (1767-1942) dan masa pasca kemerdekaan (1945-2008), yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik, dan sosial budaya. Berdasarkan dari analisis korelasi, diketahui bahwa perubahan bangunan kuno dipengaruhi faktor usia bangunan, kondisi bangunan, fungsi bangunan dan status bangunan.
Kata kunci
: pelestarian, pusat kota, perubahan bangunan dan lingkungan

ABSTRACT

The aims of this study are to identify characteristic buiiding and environment of Lawang cetral area, identify changes of building and environtment, and evaluation for the assessment changement. The method used in this study is descriptive, and evaluative. Based on analize, Lawang central area are node activity people with high population. The building style architecture in Lawang central area is empire style, srt deco and noe classic. The stage of environmental changement which is divided into four periods of time, changes of environment are, decrease of landmark, former times there were three landmark, and now there one of landmark in Lawang is Niagara hotel. Nodes in Lawang are Pasar Besar Lawang, Lawang Stasiun, and Lawang Stadium, at the time path there mayor path and minor path. Change of old building have three catgorices, 24 building wih small level of changes, 31 building are no changes, and 29 building with increasing. According to the synchronic-diachronic analysis, the aspect that affected the changes in old buildings and environment of the colonialism era of Netherland (1767-1942) and era of after Indonesia independent (1945-2008) are politics, sosio culture, and economi. And then according to the correlate analysis these changes are caused by four main factors. The first factors are the age of building, condition of building, function of building and status of building.
Keywords
: preservation, central area, changes of building and environment

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008 hlm. 206-226

PELESTARIAN MARKAS TENTARA PETA
(PEMBELA TANAH AIR) KOTA BLITAR

Afandi, Antariksa, Septiana Hariyani
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886

e-mail: fandi_cipa@yahoo.co.id

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kawasan dengan menggunakan metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder); serta menganalisis perkembangan kawasan dengan menggunakan metode deskriptif evaluatif (sinkronik diakronik). Hasil yang diperoleh dari studi tersebut, yaitu (1) Penggunaan lahan kawasan pada tahun 2007 sebagai kawasan pendidikan dengan kondisi kawasan yang kurang teratur karena pembangunan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan dan mengabaikan keberadaan bangunan bersejarah; (2) Perkembangan kawasan studi terbagi menjadi lima periode, yaitu tahun 1910-1942 berfungsi sebagai kawasan pendidikan MULO (setingkat SMP), tahun 1942-1945 berfungsi sebagai Kawasan Markas Tentara PETA, tahun 1945-1965 berfungsi sebagai kawasan pendidikan (Sekolah Guru), tahun 1965-1998 berfungsi sebagai kawasan pendidikan yang mengalami beberapa pergantian instansi pengelola (Sekolah Teknik, Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama, SMP) dan tahun 1998-2007 tetap berfungsi sebagai kawasan pedidikan untuk tiga SMP (SMPN 3, SMPN 5, SMPN 6) dan SMKN 3.
Kata kunci:
pelestarian, sinkronik diakronik


ABSTRACT
The aims of this study, first is to identify the character area uses descriptive method (observation data and secondary data). Second, to analyze the development of the area uses evaluative descriptive method (synchronic, diachronic). Finally, to analyze and determine the direction of conservation area uses development method (measurement of cultural meaning and the public opinion). The results of this study: (1) In 2007, the land use on area as a school area where the condition has not been restored because the aim of development has only to fulfill the education facilities needs and has been ignored these historical buildings; (2) The development of the area can be grouped into five periods with the following details: 1910-1942 the function of the development of area is as MULO (same level of Junior High School) school area. In 1942-1945, as army sation (PETA). In 1945-1965, as a school area for teaching proffesion. In 1965-1998, as school area with changes of the organizer for several times (Engineering Profession School, Family Prosperity School, Junior High School). In 1998-2007, the function is still as school area for Junior High School (3rd State Junior High School, 5th State Junior High School, 6th State Junior High School) and 3rd State Vocation.
Keywords
: conservation, synchronic, diachronic

Copyright © 2008 by antariksa

Sabtu, 09 Agustus 2008

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008 hlm. 64-76

TIPOLOGI FAÇADE RUMAH TINGGAL KOLONIAL BELANDA
DI KAYUTANGAN - MALANG

Arthantya Dwi Karisztia, Galih Widjil Pangarsa, Antariksa
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya,

Jalan Mayjen Haryono 167, Malang 65145

E-mail:
arta_23@yahoo.com

ABSTRAK

Tujuan studi ini adalah untuk mendapatkan tipologi façade rumah tinggal kolonial Belanda yang ada di kawasan bersejarah Kayutangan. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif. Penentuan sampel bangunan dilakukan secara purposif dengan analisisnya adalah façade (atap, dinding, dan lantai), dan metode analisis kualitatif-deskriptif dengan pendekatan tipologi. Hasil studi ditemukan bahwa macam atap yang digunakan pada rumah tinggal, yaitu perisai, pelana, dan gevel. Tipologi dinding dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu dinding polos, dinding dengan ornamen batu kali, dan dinding dengan ornamen batu tabur. Elemen bukaan pada rumah tinggal ditemukan empat jenis, yaitu pintu, jendela, bouvenlight, dan lubang angin. Jenis pintu dan jendela yang paling banyak ditemukan adalah jenis rangkap ganda dengan tipe gantung samping dengan bahan kayu sebagai bahan pembentuknya. Teritisan pada façade letaknya dikelompokkan menjadi dua, yaitu di sepanjang lebar façade dan di atas bukaan saja. Lantai pada keseluruhan kasus bangunan menggunakan bahan teraso dengan perbedaan ketinggian 30-60 cm dari permukaan tanah. Elemen façade bangunan yang paling besar rentan terhadap perubahan dinding (hampir 70% berubah), sedang elemen façade yang paling tidak rentan terhadap perubahan adalah atap
Kata kunci:
tipologi, façade, rumah tinggal

ABSTRACT

The aims of this study are to find the typology of Dutch colonial house façade in historical area of Kayutangan. This study used descriptive method. A sample building has been made purposively through analyzing the façade (roof, wall, and floor), and used descriptive-qualitative analysis method with typology approach. The study finds that the roof variations used in the colonial house at the area are shield, saddle and gevel. Wall typology has been classified into two groups: plain, ornamental with river stone, and ornamental with spreading stone. Opening element in the colonial house at the area involves four types, door, window, bouvenlight, and wind hole. The most often used door and window types submit to the double-fold with wooden-side hanger as the frame. Façade eaves may be grouped into two, along the façade wide and above the opening. The floor in all building cases applies the terrace materials with different heights of 30-60 cm above the ground surface. The greatest element of building façade seems susceptible to the wall modification (almost 70 % changes), while the strongest façade element against modification appears to be the roof.
Keywords:
typology, façade, house

ABSTRACT

This study carries out to recognize the characteristic of social economic, social culture and physical space of village settlement. The selection of Trowulan village as an object of study is based on finding of an archeologist which concluded that archeological density in the area of Segaran pond is extremely high. In the Majapahit period is also founded many religious sect and mysticism, and probably they previously be assimilate or religious syncretism. Sample taken is Trowulan village community which all at once as building owners. The result of this study shown that the majority of the community be found interrelatedness between traditional ceremony to carry out by the respondent through internal dwelling space pattern (hosing space pattern), and kinship relationship along with farmland agriculture location to external dwelling pattern (dwelling pattern in dwelling cluster). The physical space characteristic of dwelling pattern by means of yard oriented that used in a collective, inclined acquire of social characteristic, economic and culture is similar. Different with dwelling pattern through linear orientation and linear centered have inclined several of social characteristic, economic and culture.
Key words: village settlement, Trowulan village, dwelling pattern

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008 hlm. 94-109

PELESTARIAN POLA PERUMAHAN TANEYAN LANJHANG
PADA PERMUKIMAN DI DESA LOMBANG
KABUPATEN SUMENEP

Puspita Fitria Rahma Dewi, Antariksa, Surjono
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia, Telp. 62-341-567886
E-mail: puz_fitria@yahoo.com

ABSTRAK

Pola perumahan taneyan lanjhang sebagai wujud budaya khas adat, merupakan ciri khas arsitektural Madura yang memiliki tatanan berbeda. Adat tradisi Madura yang kental, membawa nilai dan sistem kekerabatan yang erat sebagai salah satu budaya lokal masyarakat Madura. Melalui penelitian case study ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pola perumahan taneyan lanjhang pada permukiman di Desa Lombang. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif eksploratif, sedangkan untuk mengetahui perubahan pola perumahan taneyan lanjhang dari waktu ke waktu digunakan teknik analisis diakronik serta teknik analisis crosstabs dan korelasi bivariate untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Hasil studi diperoleh 5 (lima) tipologi pola perumahan taneyan lanjhang yang didasarkan pada kelengkapan rumpun taneyan-nya dan pola selain taneyan lanjhang (linier sepanjang jalan). Secara diakronik diketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan pola perumahan taneyan lanjhang. Di antaranya, yaitu faktor mata pencaharian, tingkat pendapatan, status kepemilikan pekarangan dan renovasi mempengaruhi perubahan pola perumahan taneyan lanjhang. Dengan korelasi cukup, status kepemilikan rumah dan kesadaran masyarakat memiliki tingkat korelasi kuat serta upaya pelestarian mempengaruhi perubahan pola perumahan taneyan lanjhang dengan korelasi sangat kuat.
Kata kunci:
pola perumahan, taneyan lanjhang, pelestarian

ABSTRACT

Taneyan lanjhang housing pattern as a form of custom typical culture, represent Madura architectural characteristic which has different appearance. Madura tradition custom is substantial bringing the value and solid relations system as one of the society local culture. By this case study research is mean to know taneyan lanjhang housing pattern characteristic according to settlement in Lombang village. Method used in this study is exploratif descriptive, even as knowing the changes of taneyan lanjhang housing village from time to time used diacronic analysis technics, crosstabs analysis and bivariate corelation to know the factors which influence of the changes. The results of this study are 5 (five) typologi of taneyan lanjhang housing patterns which based on taneyan stool equipment and the pattern besides taneyan lanjhang (linier as long as the road). By diacronic recognize that there are some factors which influence the changes of taneyan lanjhang housing village. Among the other things are job factor, income rising, farm owner status and renovation influence the changes of taneyan lanjhang. With sufficient corelation, farm owner status and society awareness have own strong corelation with awareness in preservation that influence the changes of taneyan lanjhang housing pattern with very strong corelation.
Key words: housing pattern, taneyan lanjhang, preservation

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008 hlm. 110-120

PERUBAHAN KAWASAN BERSEJARAH BENTENG DAN MASJID INDRAPURI
KABUPATEN ACEH BESAR

Khairul, Antariksa, Agus Dwi Wicaksono
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 7051558
E-mail: khairul_risyad@yahoo.co.id

ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis tingkat perubahan lingkungan dan bangunan kuno. Kemudian mengevaluasi faktor-faktor penyebab perubahan lingkungan dan bangunan kuno di Kawasan Benteng dan Masjid Indrapuri. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan evaluatif. Berdasarkan hasil analisis tingkat perubahan lingkungan dapat dibagi empat periode waktu, landmark berupa Masjid Indrapuri, node saat ini berpindah ke Pasar Indrapuri, district berupa permukiman, path berupa jalan yang telah diperkeras aspal, dan edge saat ini berupa sungai dan ruang terbuka hijau. Tingkat perubahan bangunan kuno terdapat tiga kategori: perubahan besar sebesar 46%, perubahan kecil sebesar 42% dan yang tidak mengalami perubahan sebesar 12%. Berdasar analisis sinkronik-diakronik, pada masa Kerajaan Lamuri aspek yang mempengaruhi perubahan bangunan dan lingkungan adalah politik dan sosial budaya. Masa Kerajaan Aceh (1513-1636) dipengaruhi aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya, masa Kerajaan Aceh (1636-1942), dipengaruhi aspek politik dan ekonomi. Saat ini, aspek ekonomi, sosial budaya mempengaruhi perubahan bangunan dan lingkungan. Penyebab perubahan bangunan kuno di peroleh tiga kelompok faktor. Faktor I, usia bangunan, kurangnya perawatan bangunan, selera pemilik bangunan, dan tingkat pendapatan bangunan. Faktor II, faktor fungsi bangunan dan sosial budaya. Faktor III, yaitu status kepemilikan bangunan.
Kata kunci
: sejarah Aceh, perubahan bangunan, lingkungan.

ABSTRACT

The aims of this study are to identify and to analyze the level changes of ancient building and its environment. Then to evaluate the causal factors of environment changes and ancient buildings in the area of Indrapuri Mosque and Fortress. The method used in this study is descriptive-evaluative with quantitative approach. Based on analysis the level of environmental change is divided into four periods of time, the landmark is the Indrapuri Mosque, the node nowadays is the Indrapuri market, the district is the settlement, path is roadways that already surfaced with asphalt, and the edge is the river and open spaces. The level change of ancient buildings have three categories: 46% in a high level of changes, 42% in a medium level of changes, and 12% in a low level of changes. Based on synchronic-diachronic analysis, in the era of Lamuri Sultanate the influence aspect of the change of buildings and environment is politics and social culture. In the era of Aceh Sultanate (1513-1636), the influence aspect is economy, politic and social cultural. Politics and economy still become the main aspect that influenced in the era of Aceh Sultanate (1636-1942). Nowadays, economy, and social cultural are the aspects that influnced the changes of building and environment. These causal changes of ancient buildings have three factors group. The first factors are the building age, lack of maintenance and protection, owner preferences, and owner level of income. The second factors are the building function and social cultural. Last, the third factor is the status of the building owner.
Keywords:
history of Aceh, changes of buildings, environment

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 2, Juli 2008 hlm. 122-134

PELESTARIAN KORIDOR
JL. JAKSA AGUNG SUPRAPTO KOTA MALANG

Evy Rishnawati, Antariksa, Ismu Rini Dwi Ari
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145
E-mail: actenemo@yahoo.com

ABSTRAK

Latarbelakang studi ini, adalah bahwa kota sedang menghadapi situasi dilematik antara tuntutan pengembangan (fisik) kota modern dengan pelestarian kota bersejarah. Akibatnya, beberapa tahun terakhir ini banyak bangunan kuno/bersejarah yang dibongkar, dengan alasan lahannya diperlukan untuk pembangunan gedung baru yang modern. Tujuan dalam studi ini adalah mengidentifikasi karakteristik koridor dari elemen-elemen perancangan kota, mengetahui variabel yang mempengaruhi perubahan pada bangunan kuno, serta menentukan prioritas pelestarian melalui kajian makna kulturalnya. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif untuk mengidentifikasi karakteristik koridor, metode korelasi untuk menganalisis perubahan bangunan dan metode pembobotan untuk menentukan prioritas pelestarian. Hasil yang diperoleh, dari 15 bangunan kuno di koridor, 9 bangunan mengalami perubahan kecil, 1 bangunan mengalami perubahan besar dan 5 bangunan tidak mengalami perubahan. Variabel yang mempengaruhi perubahan bangunan kuno di koridor, yaitu variabel bahan bangunan yang tidak tahan lama dan variabel perubahan selera pemilik. Dari 15 bangunan kuno, 3 bangunan direkomendasikan untuk dipreservasi, 3 bangunan direkomendasikan untuk dikonservasi dan 9 bangunan direkomendasikan untuk direhabilitasi.
Kata kunci: koridor, perubahan, prioritas pelestarian

ABSTRACT

Background of this study is relating to the dilemmatic situation between quality demands of modern city development along with historical city conservation. As a consequence, in the last several years many ancient/historic buildings which are demolish, and the reason that the land owner is needed to expand a new modern buildings. The purpose of this study is to identify the corridor characteristic of elements design of town, to know a variable which influencing the changing of ancient building, and to determine conservation priority through a cultural meaning study. This study used descriptive method, and this method apply to identify corridor characteristic, correlation method to analyzing the change of buildings, and mass method to formative conservation priority. Result of this study obtained, from 15 ancient buildings in the corridor, there are 9 buildings in small change, 1 building in big change and 5 building do not occurrence change. Variable which influenced to the change of ancient buildings in the corridor is building material variable that is not durable and variable change of the owner enthusiasm. From 15 ancient building, 3 building recommended for preservation, 3 building recommended for conservation and 9 building recommended to be rehabilitated.
Keywords: corridor, change, priority of conservation

Copyright © 2008 by antariksa

Senin, 14 April 2008

arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 1, Maret 2008




Permukiman, sebagai suatu tempat terjadinya interaksi dalam masyarakat, tentunya memiliki karakteristik yang khas dari masing-masing masyarakat yang ada di dalamnya. Hal tersebut sangat bergantung pada faktor-faktor pendukungnya, baik dari sosio-kultural masyarakat, maupun dari bentuk adaptasi terhadap lingkungan di sekitar permukiman, maupun sejarah kawasan yang pernah muncul, sebagai awal terbentuknya suatu permukiman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik pola permukiman masyarakat di Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep, untuk memperkaya tipologi permukiman masyarakat di Madura. Dipergunakan metode deskriptif, eksploratif, dan kualitatif, untuk mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai kawasan penelitian. Dalam hal ini, Desa Pinggir Papas sebagai kawasan yang berada di pesisir pantai paling timur Pulau Madura, dapat dikatakan menjadi pintu gerbang masuknya berbagai budaya baru yang sedikit banyak dapat memberikan pengaruh bagi kehidupan masyarakatnya. Selain itu, potensi alam setempat sebagai penghasil garam terbesar di Pulau Madura, memunculkan suatu bentuk permukiman penduduk yang disesuaikan dengan kondisi alam setempat. Orientasi bangunan maupun letak bangunan-bangunan khusus maupun beberapa fasilitas yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, merupakan suatu hasil observasi dan analisa yang memberikan karakteristik yang khas bagi kawasan penelitian.
Kata Kunci: Permukiman, petani garam, karakteristik

Human settlement, as an places where interaction’s happen in the societ. It have some typical characteristic from each society in depth. The settlement is base on its supporter factors, such as society socio-culture, adaptation of the environment, and also the histories of area which have emerged, as early formed of this settlement. The aim of this research is to identify the characteristic of human settlement’s pattern in Desa Pinggir Papas, Kabupaten Sumenep, as an effort to complete data of human settlement in Madura. This research utilize, explore and descriptive analysis methods and qualitative method, to get more information about researches area. In this case, Pinggir Papas as an area residing in east coastal area in Madura Island, become gateway entry of various new culture which more or less can give influence to the societies life’s. Besides, local natural potency as the biggest producer of salt in Madura Island, peeping out a specifics form of settlement which it’s adapted from the condition of local nature. The Building orientation moreover special buildings situation of some facility having an effect to society living. Represent a result of analysis along with observation giving typical characteristic to research area.
Keyword: human settlement, salt farmer, characteristic







Koridor Jalan Veteran beserta 11 bangunan di dalamnya ditetapkan pemerintah Kota Surabaya sebagai situs cagar budaya. Namun di lain pihak, JPPI telah mengkategorikan kawasan Jalan Veteran sebagai pusaka budaya terancam punah di Surabaya. Permasalahan yang mendasari penelitian ini adalah upaya pelestarian yang terlalu bersifat individual tanpa diintegrasikan dengan elemen ruang koridor, perubahan arah transportasi tidak diawali dengan façade bangunan kuno serta bangunan kuno terlantar, tidak dihuni/difungsikan. Tujuan penelitian untuk: 1) mengidentifikasi karakteristik koridor Jalan Veteran dari sejarah perkembangan, aspek guna lahan, transportasi dan kepadatan bangunan; 2) menganalisis potensi dan permasalahan menggunakan metode statistik deskriptif dan teori perancangan kota. Fungsi Jalan Veteran sebagai kawasan niaga yang dipengaruhi JMP dan Kembang Jepun dapat ditingkatkan menjadi skala regional. Arus transportasi dipengaruhi arus menerus (82%) dan arus lokal (18%) dengan kelas pelayanan C. Tipologi ruang dinamis dengan sifat ground figuratif. Potensi yang dimiliki adalah kebijakan pelestarian pemerintah yang sangat mendukung, fungsi kegiatan tidak pernah berubah sejak masa kolonial, skala dan tipologi ruang yang harmonis dapat menciptakan keselarasan visual. Permasalahan yang dimiliki adalah kondisi transportasi mengurangi pandangan ke facade bangunan kuno, prosentase arus menerus yang lebih besar dari arus lokal, konflik parkir antara kendaraan pribadi dengan kendaraan barang dan elemen street furniture yang belum dihadirkan sebagai pembentuk identitas cagar budaya.
Kata kunci : Jalan Veteran, cagar budaya, potensi, permasalahan

Veteran Street and 11 buildings in it are confirmed by Surabaya’s Government as an Urban Heritage. In the other hand, JPPI has categorized Veteran Street as a nearly destroyed urban Heritage in Surabaya. Basic issues of this research are individual preservation in Veteran Street without involving street’s elements, transportation changing is not start in heritage's facade n abandoned/unfunctional buildings in Veteran Street. The aims of research are: 1) identify Veteran street characteristic from historical, land use, transportation and building mass aspects; 2) analyze potent ion and issues using descriptive statistic method and urban design’s theory. Veteran street’s role as business district that effected by JMP and Kembang Jepun can be develop into regional scale, transportation if affected by continuously current (82%) and local current (18) with level of service (LOS) C. Harmonic space typology with ground figurative character. The potent ions are a very supporting preservations policy in Surabaya, the land use’s never change since Colonial period, a harmonic scale and space can create a harmonious visual. The issues are transportation condition reduces the view to facade, presentation of continuously current is bigger than local current, conflict between private vehicle and carriage, and street furniture’s elements are not yet present as an urban heritage identity former.
Key words: Veteran Street, urban heritage, potent ion, issues







Tujuan studi ini, yaitu untuk mengidentifikasi karakteristik lingkungan fisik dan bangunan kuno yang ada di Kampung Arab Malik Ibrahim, dan mencari penyebab terjadinya perubahan fisik bangunan kuno. Metode yang digunakan, yaitu metode deskriptif untuk mengidentifikasi karakteristik penyebab terjadinya perubahan fisik Kampung Arab Malik Ibrahim Gresik. Data yang digunakan berupa data sekunder yang didapatkan dari instansi terkait serta studi kepustakaan, dan data primer yang didapatkan dari observasi langsung, wawancara, dan penyebaran kuisoner dengan jumlah sampel sebanyak 52 bangunan kuno. Pola penggunaan lahan menunjukkan bahwa di Kampung Arab Malik Ibrahim peruntukan lahannya masih didominasi (87%) oleh permukiman. Ruang terbuka hanya sebatas halaman rumah-rumah penduduk. Sirkulasi pergerakan lalu lintas di Kampung Arab Mali Ibrahim sebagian besar mengarah ke Jalan Malik Ibrahim karena di jalan tersebut terdapat wisata ziarah makam Malik Ibrahim. Perubahan yang terjadi pada bangunan, yaitu penambahan ruang, perubahan wajah bangunan, pengubahan bentuk pagar, pengubahan warna cat, bentuk atap, pengurangan dan penambahan bentuk interior, pengubahan genteng, perubahan bentuk pintu dan penambahan ornamen.
Kata kunci: pelestarian, Kampung Arab

The aims of this study are to recognize the physical environment characteristic and the ancient buildings which be subsist in Kampong Arab Malik Ibrahim, and to find out a various reasons the physical change of ancient buildings. Research method used in this study is explanation method for characteristic identification and various reasons of physical change of Kampong Arab Malik Ibrahim. Data used is secondary data be originate from administration authority interrelated along with literature study. Primary data is originated from field observation, interview, and distributing questionnaire with number of sample amounting to 52 ancient buildings. The pattern of land use shows that Kampong Arab Malik Ibrahim the allotment of the land use is still lead (87%) by settlement. Open space in that area merely limited of yard of resident houses. The circulation movement of traffic the majority direct to Jalan Malik Ibrahim because of at that place exist sightsee of devotional visit to the grave of Malik Ibrahim. The changing which take place at the building is additional of room, change of buildings façade, modification form of fence, modification paint of color, form of roof, reduction and additional of the interior, modification of the roof tiles, change form of the doors, and addition of the ornament.
Keyword: preservation, Kampong Arab







Tujuan dari penelitian adalah: (1) mengidentifikasi dan menganalisis citra kawasan Alun-alun Tugu sebagai kawasan bersejarah berdasarkan persepsi masyarakat, (2) menganalisis dan mengevaluasi kualitas dan kepentingan kawasan Alun-alun Tugu berdasarkan aspek-aspek dalam diagram Place sehingga diperoleh arahan dan saran bagi kegiatan pelestarian. Penelitian dilakukan melalui pendekatan fenomenologis, yaitu mengadakan telaah deskriptif dari pengalaman pengamat (responden) dalam menghayati suatu lingkungan (kawasan) kota; dan dalam proses analisis menggunakan metode deskriptif dan evaluatif. Hasil penelitian adalah (1) citra kawasan bersejarah pada Alun-alun Tugu, berdasarkan: [a] pemetaan kognitif, terdapat lima elemen kawasan yang diidentifikasi masyarakat memiliki nilai sejarah dan memberikan citra bersejarah pada kawasan, [b] pemaknaan kawasan, masyarakat memberikan nilai keterikatan terhadap tempat yang positif, baik secara emosional maupun fungsional.; (2) kualitas dan kepentingan kawasan Alun-alun Tugu sebagai kawasan bersejarah menurut masyarakat kurang memberikan kepuasan yang ditunjukkan dengan tingkat kesesuaian sebesar 82,05% dan 92,57%, sehingga terdapat aspek-aspek yang perlu ditingkatkan agar kepuasan masyarakat terpenuhi.
Kata kunci:
citra kawasan, kawasan bersejarah, Alun-alun Tugu

This research aims: (1) to identify and analyze Alun-alun Tugu area image as historical area based on society perception, (2) to analyze and evaluate the importance and performance of Alun-alun Tugu area based to the aspect of Place diagram, is so that obtained suggestion and instruction for preservation activity. This research using the phenomenology approach that is performing a descriptive study through the observer (respondents) experience in involving an environment (area) of a city; and in course of analyze using the descriptive and evaluate method. As the result are (1) historical area image of Alun-alun Tugu, based on: [a] cognitive mapping, there are five area element that identified by society have history value and give historic image to the area, [b] place attachment, the society assign value binding to place which are positive, for emotionally and functional; (2) importance and performance of Alun-alun Tugu area as historical area is less give satisfaction with according to level equal 82,05% and 92,57%, so there are aspects which need to be improved to fulfilled the society satisfaction.
Keywords:
area image, society perception, Alun-alun Tugu





Pengaruh kolonialisme di setiap wilayah Nusantara sangat luas, hal ini disebabkan masa penjajahan Belanda sangat lama. Salah satu hasil pengaruh kolonial yang masih terlihat jejaknya sampai sekarang, yaitu pabrik gula, meskipun secara umum ada persamaan. Namun, masing-masing mempunyai bentuk perkembangan arsitektur yang khas, berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dalam mengkaji arsitektur kolonial Belanda di suatu wilayah, dilakukan dengan jalan mengkaji kasus per kasus. Metode penelitian ini adalah studi kasus, dengan pendekatan sejarah menyangkut perkembangan kawasan dengan sudut pandang arsitektur, menyangkut perkembangan tata permukiman dan tipologi rumah-tinggal. Kasus penelitian adalah perumahan karyawan Pabrik Gula Pesantren Baru, Kediri. Perpindahan lokasi pabrik dan kantor merupakan ciri yang menonjol dari pabrik gula ini, sehingga berbeda dengan kondisi pabrik gula sejenis yang ada di seluruh Indonesia. Kecenderungan gaya arsitektur kolonial di dalam kompleks pabrik diwarnai dengan gaya arsitektur lain yang membuat wajah perumahan karyawan ini mempunyai ciri arsitektur yang beragam.Hasil penelitian ini, yaitu perkembangan tata lingkungan di permukiman Pabrik Gula Pesantren Baru, yang dibagi menjadi tiga zonasi ruang, yaitu Zona Privat, Zona Semi Publik, dan Zona Publik (semakin bertambah luas areanya). Ditinjau dari hasil pembagian periodesasi ternyata mempunyai pengaruh terhadap tipologi rumah-tinggal. Salah satu faktor penyebabnya, yaitu masa pemerintahan yang berbeda, yaitu tahun 1890 (pemerintahan kolonial Belanda), tahun 1958 (pemerintahan Orde Lama) dan tahun 1979 (pemerintahan Orde Baru). Ditinjau dari tipologi geometri, fungsi dan zonasi ruang, yaitu kolonial dan pasca kolonial.
Kata kunci:
perkembangan permukiman, tipologi rumah-tinggal, pabrik gula

The colonialism power in every region archipelago is extremely wide; this reason caused of a long time colonization period of the Dutch. One of the colonial influence records it can be seen awaiting to the recent day, that is the sugar industry, in spite of in generally is similar. Nevertheless, in that order contain a figure of architecture development characteristic dissimilar with the others. Because of in the Dutch colonial architectural studies in an area carry out with case by case. Research methods used in this study is case study, with historical approach relate to development area accompanying to the architecture point of view, included the development of settlement arrangement and housing typology. The research object is employee housing of Pesantren Baru sugar industry in Kediri. The removal area of industry and office comprise an characteristic that shown from this sugar industry, in anticipation of dissimilar with the condition of sugar industry variety which be existent in the entire of Indonesia. The tendencies of colonial architecture style in industrial compound with other a variety of architecture style that create a face of employee housing contain a variety of architecture characteristic. The result of this study is the arrangement development of housing area. The sugar industry Pesantren Baru divides into three zone spaces that are private zone, semi private zone and public zone (increasingly widespread area). The observation result from divide into period it appears contains an influence relating to housing typology. The one factors is a various government periods, in 1890 (the Dutch colonial government), in 1958 (Orde Lama Government) and 1979 (Orde Baru government). Observe from geometric typology, function and space zone to be exact as colonial and pasca colonial.
Key words:
setlement development, housing tipology, sugar industry

Copyright © 2008 by antariksa