Sabtu, 14 Januari 2012

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm. 143-155

TIPOLOGI FASADE BANGUNAN KOLONIAL

DI KORIDOR JALAN LETNAN JENDERAL SOEPRAPTO

KOTA SEMARANG

Bunga Indra Megawati, Antariksa, Noviani Suryasari

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145 Telp.0341-567486

e-mail: ninja_archi@yahoo.com


ABSTRAK

Bangunan kolonial Belanda menjadi titik awal dari studi yang dapat memberikan pengetahuan tentang tipologi fasade dan perkembangan bentuk arsitektur kolonial berlandaskan kebudayaan lokal dan iklim tropis. Bentuk–bentuk arsitektur tersebut dapat menjadikan cermin bangunan-bangunan kolonial di Indonesia. Dalam studi ini, digunakan metode deskriptif-eksploratif, dan pemilihan sampelnya digunakan purpossive sampling, kemudian dilanjutkan dengan metode deskriptif-kualitatif dibantu dengan metode kuantitatif. Variabel yang dijadikan bahan antara lain adalah era pembangunan, elemen fasade bangunan, dan komposisi fasade bangunan. Hasil studi ditemukan empat periode pembangunan, yaitu pada abad ke-18, abad ke-19, abad ke-20 serta setalah abad ke-20, dan disetiap periode memiliki tipe fasade bangunan kolonial (elemen kepala bangunan, badan bangunan, dan kaki bangunan). Selain perbedaan periodesasi juga terdapat perbedaan fungsi–fungsi yang berbeda, yaitu sebagai tempat ibadah, perkantoran, perdagangan dan hunian. Tipologi berdasarkan elemen fasade bangunan mampu memberikan hasil visual terhadap kasus terpilih, yaitu 18 buah bangunan diketahui mempunyai morfologi elemen bangunan terhadap iklim. Secara umum disebutkan bahwa karakter visual dan tipe setiap tipologi fasade bangunan memiliki beberapa jenis atap, yaitu atap perisai, pelana, kubah serta kombinasi pada bentuk gable dan tower. Berdasarkan komposisi bangunan memiliki tipologi yang berbeda di setiap kasus bangunan antara lain memiliki sumbu yang simetris, dengan ritme atau perulangan pada elemen pembentuk fasade seperti pintu dan jendela yang dinamis, serta hirarki terpusat dengan nilai yang tinggi pada ukuran dan peletakkan entrance.

Kata kunci: tipologi, fasade, kolonial


ABSTRACT

The Dutch colonial buildings to be the first point of study which can given a knowledge relating to façade typologies, and the development of colonial architecture form is based on local culture and tropical climate. The architectural forms can construct a reflection of colonial buildings in Indonesia. This study used descriptive-exploratory methods, and the selection of the sample used purposive sampling methods, and then to analysis is used descriptive-qualitative method, which assisted with quantitative methods. Variables are used as aspect among others, is the era of development, building facade elements, and the composition of the building facade. The results study show four periods construction as in 18th, 19th, 20th and after 20th centuries, and each period had its own façade typology type (the head of the building element, body of the building, and foot of the building). Besides the different periods is found different functions, as place for pray, office, commerce and dwellings. Typology based on building façade elements be able to give visual result concerning selected cases, it results 18 buildings known have morphologies building elements toward climates. Generally, as is mention that visual character and every typology building façade types have several kind of roof shapes, which are angular roof (perisai), domes (pelana kubah), and combine gable and tower. Based on building compositions is have typology which different in every building cases, such as symmetric axes with its rhythm or repetition on its façade elements; as doors, windows which dynamic, and centralized hierarchy with high values on the sizes and entrance positioning.

Keywords: typology, façade, colonial

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm. 156-173

TATA RUANG DALAM RUMAH PENINGGALAN

MASA KOLONIAL DI TEMENGGUNGAN KOTA MALANG


Lintang Satiti Mahabella, Antariksa, Noviani Suryasari

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Telp. 0341-567486

e-mail: lintang.mahabella@gmail.com

ABSTRAK

Peninggalan masa kolonial yang banyak ditemukan di Kota Malang antara lain adalah bangunan pemerintahan, dan rumah tinggal. Studi ini dilakukan pada tata ruang dalam rumah peninggalan masa kolonial di Temenggungan Kota Malang. Pembahasan ini dilakukan untuk mengetahui dan menggambarkan tata ruang rumah kolonial yang ada di kawasan studi, yang telah ada sejak masa kolonial. Tujuan studi ini adalah untuk menggambarkan tata ruang dalam rumah peninggalan masa kolonial di Temenggungan Kota Malang, diikuti oleh perubahan yang terjadi beserta faktor yang menyebabkan perubahan yang ada. Studi dilakukan dengan metode deskriptif, yang diawali oleh penentuan variabel dan sampel studi, sesuai dengan topik yang diangkat. Hasil studi menunjukkan tata ruang dalam rumah peninggalan masa kolonial di Temenggungan Kota Malang, tersusun atas tatanan zona publik di bagian depan rumah, diikuti dengan penataan zona semipublik, dengan zona privat di sisi kanan dan kiri zona semipublik. Perubahan terjadi pada beberapa rumah peninggalan masa kolonial di Temenggungan Kota Malang, disebabkan oleh beberapa faktor, yang meliputi faktor ekonomi, kebutuhan manusia akan ruang (privasi), bertambahnya jumlah penduduk, faktor sosial ekonomi, dan aksesibilitas ruang yang cepat.

Kata Kunci: tata ruang dalam, rumah, arsitektur kolonial, perubahan

ABSTRACT

The legacy of colonial which are found in Malang city, are government buildings and residences. This study is conducted on spatial patterns in the relics of the colonial house in Temenggungan Malang. The purpose of this study is to describe spatial patterns in the relics of the colonial house in Temenggungan Malang, followed by changes that occur and the factors that cause the changes. The study is conducted with descriptive method, which are begins by determining the variables and the study sample, according to the topics which are rose. The results from the analysis data showed a pattern of spatial of the relics colonial houses in Temenggungan Malang, composed of public order in the front zone of the house, followed by the arrangement of semi-public zones, with a private zone on the right and left side of the semi-public zone. Changes that are occur in some of the relic’s colonial houses in Temenggungan Malang, caused by several factors, including economic factors, the human need for space (privacy), increase of population, socioeconomic factors, and the faster spatial accessibility.

Keywords: spatial pattern, houses, colonial architecture, changes

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm.174-184

VITALITAS KAWASAN BERSEJARAH

PT GARAM KALIANGET-MADURA


Siti Nuurlaily R, Antariksa, Nindya Sari

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65-Telp (0341)567886

e-mail: nuurlaily.90_plano@rocketmail.com

ABSTRAK

Pada abad ke-19 Pulau Madura adalah produsen garam satu-satunya di Indonesia terletak di kawasan Kalianget. Keberadaannya yang tersisa adalah bangunan-bangunan kuno dengan ciri khas Belanda. Saat ini kawasan Kalianget mengalami penurunan kawasan, yaitu terdapatnya bangunan kuno yang kosong dan sebagian bangunan kuno mengalami kerusakan. Tidak adanya dokumen yang mengatur tentang benda-benda cagar budaya menimbulkan kesemrawutan perawatan bangunan kuno. Namun adanya tujuan pemerintah untuk menjadikan kawasan Kalianget sebagai wisata kota tua, maka dibutuhkan tinjauan mengenai vitalitas kawasan. Tujuan studi ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis tingkat vitalitas serta faktor penyebab penurunan vitalitas kawasan Kalianget. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif dengan menggunakan teknik scoring serta metode evaluatif untuk mengetahui faktor yang menyebabkan penurunan vitalitas kawasan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa kawasan bersejarah PT Garam Kalianget berada pada tingkat rendah, atau dalam kondisi mati. Faktor penyebab penurunan vitalitas kawasan, yaitu pertama, faktor ekonomi, kurangnya pendanaan (pemerintah dan pemilik bangunan) untuk merawat dan menjaga bangunan kuno; kedua, fisik bangunan, terjadi penurunan pemanfaatan bangunan kuno (pengosongan bangunan kuno); ketiga, faktor sosial, rendahnya partisipasi masyarakat terhadap kawasan bersejarah (masyarakat penghuni bangunan kuno dan non penghuni bangunan kuno).

Kata kunci: kawasan bersejarah, vitalitas, faktor penurunan, vitalitas kawasan.

ABSTRACT

In the 19th century, Madura Island is the only salt producer in Indonesia located in the sub district of Kalianget. The existence that remains is old buildings with Dutch architecture characteristic. At the present time Kalianget sub district have an area decrease that there are be found some of the buildings are left empty without someone living and some of the buildings have damage condition. This condition is probably caused of the lack documents related to regulate in managing the building preservation give and disorganized in protection of the old buildings. However with government purpose for Kalianget sub district as old city tourism, then need contemplation on area vitality. The aims of this study are to identification and analyze the level of vitality and causal factor of the decrease Kalianget sub district. Research methods use in this study is dealing with descriptive-evaluative using scoring technique and valuation method to identify the causal decrease on the sub district. The result of this study shows that historical area of on salt factory of PT Garam Kalianget placed in the low level or in dead condition. The causal factor of vitality decrease area, first is the economic factor, shortcoming financing (government and owner of building) for caring and protect the old buildings; second, is physical building, it occur in decreasing to make use of old buildings (clearing of old building); third, social factor, too short of community participation in historical area (community occupant of old buildings and community non occupant of old buildings).

Keywords: historic area, vitality, decrease factor, vitality area

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm.185-197

PERUBAHAN KAWASAN JALAN BRIGJEN SLAMET RIYADI

(ORO-ORO DOWO) KOTA MALANG


Dessy Aliana Rachmawati, Antariksa, Dian Kusuma Wardhani

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145; Telp (0341) 567886

e-mail: dhe_zzz@yahoo.co.id

ABSTRAK

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi sejarah, perkembangan, dan karakteristik kawasan, serta mengidentifikasi perubahan dan menganalisis penyebab perubahan kawasan. Metode deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi sejarah, perkembangan, dan karakteristik kawasan, serta menganalisis tipe perubahan perkembangan dan fungsi kawasan. Metode evaluatif digunakan untuk menganalisis perubahan dan penyebab perubahan kawasan, termasuk di dalamnya perubahan dan penyebab perubahan bangunan kuno sebagai bagian dari karakter masa lampau kawasan. Hasil studi menunjukkan bahwa perkembangan kawasan tidak hanya mencakup fisik, namun juga unsur non fisik (sosial, ekonomi dan politik/kebijakan pemerintah) yang mempengaruhi proses terjadinya perubahan. Perkembangan kawasan menunjukkan bahwa kawasan mengalami perubahan dari tipe perkembangan horizontal ke perkembangan interstisial. Perubahan kawasan dengan sinkronik-diakronik menunjukkan pengaruh perkembangan aspek sosial, ekonomi dan politik terhadap fisik kawasan yang ternyata saling memiliki keterkaitan. Namun pengaruh masing-masing aspek tersebut tidak sama pada setiap periode waktu. Penyebab perubahan kawasan disebabkan oleh faktor aktivitas ekonomi dan politik (kebijakan pemerintah), sedangkan kondisi sosial tidak terbukti memilki korelasi sebagai penyebab perubahan. Penyebab perubahan bangunan terdiri dari tiga kelompok faktor, yaitu faktor pertama terkait dengan bangunan dan pemilik, faktor kedua terkait dengan kawasan dan faktor ketiga terkait dengan non fisik (desain dan hukum).

Kata kunci: perkembangan, perubahan


ABSTRACT

The purposes of this study are to identify history, development and characteristics of the area, and to identify the changes that occur to the area and to analyze the cause of area changes. Descriptive method used to identify history, development of the area, and to identify the characteristic. In addition, it analyzes the type of development changes and function of the area. Evaluative method used to analyze changes and to analyze causal changes in the area, which also the causal changes of old buildings as a part of the past character area. The result of this study showed that the development of area involved not only physical aspect, but also non-physical aspects (social, economic and politics or government policies) that influenced the process of change. The development of area showed that the area changed from horizontal to interstitial type. The changes of area used synchronic-diachronic analyze showed the influence of development aspects as social, economy, and political aligned with physically area which apparently have interrelatedness. However the influence of each aspect is not the same in every period of time. The causal of area changed cause of economic activity factor and politic (government policies), and the social condition have no correlation as causal change. The causal changes of the old building consist of three group’s factor, the first factor is interrelated with building and the owner, the second factor is interrelated with the area, and the third factor is interrelated with non physical (design and regulation).

Key words: development, changes

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 3, November 2011 hlm.198-210

PERUBAHAN KAWASAN KAMPUNG TUGU JAKARTA UTARA


Dana Adisukma, Antariksa, Dian Kusuma Wardhani

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jalan MT. Haryono 167 Malang 65145, Indonesia. Telp. +62-341-567886

e-mail: d_adisukma@ymail.com

ABSTRAK

Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik dan perubahan kawasan Kampung Tugu serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kawasan Kampung Tugu Jakarta Utara. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif-evaluatif. Karakteristik kawasan Kampung Tugu diidentifikasikan berdasarkan atribut pembentukan kawasan. Perubahan kawasan Kampung Tugu dapat dilihat pada perubahan penggunaan lahan, aksesibilitas dan elemen pembentuk kawasan. Berdasarkan analisis sinkronik-diakronik dapat disimpulkan bahwa perubahan kawasan Kampung Tugu dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik. Berdasarkan analisis faktor terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi perubahan kawasan Kampung Tugu. Faktor I adalah sejarah kawasan dan atraksi budaya, faktor II adalah landmark dan aktifitas kawasan dan faktor III adalah masyarakat.

Kata kunci: perubahan kawasan, Kampung Tugu

ABSTRACT

The purpose of this study is to identify the characteristics and changes in Kampung Tugu area and analyze factors that influence the changes in Kampung Tugu area, North Jakarta. The method used in this study is descriptive-evaluative method. Ccharacteristics of Kampung Tugu area identified based on the form attributes of the area. Changes in Kampung Tugu area were seen in land use, accessibility and the forming elements of the area. Based on the synchronic-diachronic analysis it concluded that the changes in Kampung Tugu area affected by economic and political factors. Based on the factors analysis, there are three main factors that affected changes in Kampung Tugu area. The first factors historyy of the area and cultural attractions, the second factors is landmarks and activities of the area and the third factor is the citizen.

Keywords: changed area, Kampung Tugu

Antariksa © 2011

Sabtu, 08 Oktober 2011

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 2, Juli 2011






ABSTRAK
Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik bangunan, serta menganalisis dan menentukan arah pelestarian bangunan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia di Bogor. Studi ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan tiga macam metode, yaitu metode deskriptif analisis, metode evaluatif (pembobotan), dan metode development. Dalam studi ini ditemukan bahwa karakter arsitektur kolonial di bangunan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan adalah penggunaan simetri bilateral yang dominan pada komposisi massa, tampak depan, dan denah bangunan. Elemen-elemen bangunan menggunakan bentuk-bentuk geometris yang rapi, sederhana, dengan minim ornament, serta perulangan pada elemen bukaan (jendela dan ventilasi). Di sepanjang keliling selubung bangunan dengan menggunakan pola a-a-a-a yang berkesan formal-monoton. Penggunaan material batu kali yang dominan sebagai finishing pada dinding eksterior bangunan, dan penggunaan keramik pada dinding interior ruang-ruang yang mempunyai fungsi sebagai laboratorium. Denah bangunan menggunakan pola grid 90° dengan aksentuasi berupa grid 45◦ pada bagian pusat bangunan yang dilengkapi dengan inner courtyard untuk memperkuat aksentuasi pola grid. Orientasi bangunan yang berpatokan pada landmark kawasan, yakni Taman Kencana. Arahan pelestarian bangunan Balai Penelitian Bioteknologi Penelitian Indonesia terbagi menjadi empat tindakan, yaitu preservasi (3 elemen), konservasi (7 elemen), rehabilitasi (12 elemen), dan rekonstruksi (3 elemen).
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and to analyze the building characteristic, and also to analyze and to determine the building conservation strategies. This study is based on a descriptive research which used three different kinds of methods: descriptive analysis, evaluative, and development method. The study found that the characteristic of Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Corps building are dominant bilateral symmetry used ahead building masses composition, front elevation, and floor plan. The elements form used geometrical. The building elements used neatly geometrical form, simple, with least ornamental detail form of building element, with least ornament, and repetition at the opened element (window and ventilation). In the long side of the building envelope used with a-a-a-a rhythm created a formal-monotone effect. The domination using of wall stone is to finished gravel exterior wall, and the using of ceramic at the interior wall rooms have a function room as laboratories. The plan used 90° grid pattern floor plan with 45° grid drawl at the central room along with inner courtyard to emphasize the grid pattern accentuation. The building landmark orientation area is towards to Taman Kencana. Conservation strategies for Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Corps building are divided into four strategies: preservation (3 elements), conservation (7 elements), rehabilitation (12 elements), and reconstruction (3 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.







ABSTRAK
Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik bangunan, serta menganalisis dan menentukan arah pelestarian gedung Merah Putih Balai Pemuda Kota Surabaya. Studi ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan tiga macam metode, yaitu metode deskriptif analisis, metode evaluatif (pembobotan), dan metode development. Dalam studi ini karakter bangunan dibagi dalam tiga karakter utama, yakni karakter visual bangunan yang didominasi dengan bentuk lengkung dan ornamen floral pada elemen fasade dan bentuk geomteri presegi panjang pada elemen ruang dalam sebagai perubahannya; perulangan bentuk pada elemen bukaan dengan jenis, ukuran dan material penyusun yang berbeda; massa bangunan berbentuk kubus dengan deformasi bentuk limas persegi delapan. Karakter spasial bangunan memiliki alur sirkulasi ruang linier yang tidak saling terhubung akibat perubahan pola ruang dalam; orientasi bangunan pada arah barat daya sebagai adapatasi bangunan terhadap site; kesimetrisan bersifat global dan memiliki dua jenis sumbu bangunan, sumbu simetri dan asimetri seimbang. Karakter struktural dengan perpaduan sistem rangka kayu dan rangka pipa sebagai struktur atap dan menggunakan sistem dinding pemikul dengan pelengkung sebagai penguat struktur dinding bangunan. Arahan pelestarian gedung Merah Putih Balai Pemuda Surabaya terbagi menjadi tindakan preservasi (4 elemen), konservasi (7 elemen), restorasi (2 elemen), rehabilitasi (7 elemen), dan rekonstruksi (1 elemen).
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and to analyze building characteristic, also to analyze and to determine building conservation strategies. This study is based on a descriptive research which uses three different kinds of methods: descriptive analysis, evaluative, and development method. The characteristic of Balai Pemuda in Surabaya are divided into three main characters, visual character of the building has dominant curve shape with floral ornament on building facade and square geometrical shape on interior element of the building as a transformation; shape repetition on the building opening (window and door) with different type, dimension and material; has cube form mass with deformation of octagonal-shaped mass. Spatial characters of the building are disconnect linear circulation between rooms of the building was formed by the changing of space in pattern; building’s orientation face southwest direction as a site adaptation; symmetrical plan with two kind of axis, symmetrical axis and asymmetrical axis. Structure character of the building are use combination of wood and pipes as a frame roof construction and bearing wall system with arch as a brace wall structure. Balai Pemuda in Surabaya are divided into five strategies: preservation (4 elements), conservation (7 elements), restoration (2 element) rehabilitation (7 elements), and reconstruction (1 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakter bangunan utama eks Rumah Dinas Residen Kediri yang meliputi karakter visual dan spasial bangunan; menganalisis dan menentukan strategi dalam upaya pelestarian bangunan utama eks Rumah Dinas Residen Kediri. Metode analisis data yang digunakan pada studi ini ada tiga, yaitu metode deskriptif analisi, metode evaluatif (pembobotan), dan metode developmen. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa karakter visual massa bangunan utama eks Rumah Dinas Residen Kediri beserta kedua massa bangunan penunjang di sebelah kanan kirinya didominasi oleh elemen-elemen bangunan berbentuk geometri. Ciri visual yang paling kuat pada bangunan ini adalah sumbu simetri pada denah dan fasade yang masih bertahan hingga saat ini. Selain itu, penggunaan elemen-elemen bangunan dengan ukuran besar dan dengan adanya dua massa penunjang merupakan ciri khas yang menggambarkan fungsi bangunan ini sebagai banguna pemerintahan jaman kolonial yang tetap terjaga hingga saat ini. Ciri spasial pada kompleks massa bangunan ini telah mengalami banyak perubahan seiring berubahnya fungsi dari bangunan saat ini. Arahan pelestarian pada kompleks massa bangunan ini, diklasifikasikan ke dalam tiga kelas elemen-elemen bangunan potensial, yaitu potensial rendah, potensial sedang, dan potensial tinggi. Selanjutnya untuk dari hasil penetapan klasifikasi ditentukan strategi pelestarian yang sesuai dengan kondisi masing-masing elemen bangunan tersebut.
Kata kunci: karakter arsitektural, arsitektur kolonial, pelestarian bangunan


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and analyze building character of the main building of former Residential House Kediri, which includes its visual and spatial characters; analyzing and identifying the conservation strategy for the main building of former Residential House Kediri. This study applied three analysis methods; descriptive analysis, evaluative (scoring) and development. The study result showed the visual characters of the main building in former Residential House included the surrounds buildings on its left and right sides are dominated with geometric-shaped elements. The most significant visual feature on this building is the axes applied on the plan and façade which are still sustained until present time. Besides, pillars (Tuscan and ionic) constructed in large scale and the existence of two buildings surround this building showed the building’s function as colonial government building that remained until present time. The spatial feature on its mass are changed as well as the function itself changed. The building conservation strategy is classified into three potential building’s elements; low potential, average potential, and high potential. Those classified strategies will be applied on each building’s elements.
Keywords: Architecture characteristic, colonial architecture, building conservation







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter bangunan Stasiun Kota Bondowoso, kemudian menentukan upaya pelestarian bangunan stasiun tersebut. Metode yang digunakan, yakni metode analisis dekriptif, metode evaluatif dan metode development. Hasil studi ditemukan bahwa karakter bangunan Stasiun Bondowoso dilihat dari bentuk denah bangunan memiliki denah dan tampak depan yang dominan simetris. Proporsi antara tinggi dan lebar bangunan dibuat horisontal agar tercipta kesan lebar dan mewah. Pada bagian tengah bangunan memiliki ketinggian yang berbeda dengan sayap kanan dan sayap kiri bangunan. Untuk jendela, pintu dan atap bangunan menggunakan posisi simetris. Bangunan memiliki point of interest pada bagian tengah yang merupakan main entrance dari bangunan berupa list berbentuk garis pada kolomnya. Pada bagian belakang atau ruang peron terdapat perulangan pada pintu dengan menggunakan dua jenis pintu. Kolom bagian peron berbeda dengan kolom lainnya, terbuat dari baja dengan finishing warna putih biru. Stasiun Bondowoso menggunakan 4 arahan pelestarian, yaitu preservasi (7 elemen), konservasi (11 elemen), rehabilitasi (5 elemen), dan restorasi (2 elemen)
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify the character of the Bondowoso City Station building, and then determine the preservation of the building. The methods used in this study are descriptive analysis, evaluative analysis and development analysis. This result of this study found the characters of Bondowoso Station building based on the building layout plan have a symmetrically dominant of the plan and façade. The proportion between height and width of the building made horizontally to create impressions of wide and glory. In the middle part of the building have different level compared to the right and left sides of the building. The windows, doors, and roofs are used in symmetrically position. The building have a point of interest at the center part of the main entrance of the building, as shapes with lining list at the pillar. In the rear side or in the lane room found repetition at the door with used two different kinds of doors. Pillars in the lane room are different with the other pillars of the building, these pillars constructed from steel and blue-white furnished. The conservation strategy of Bondowoso Station divided in four conservation strategy which are preservation (7 elements), conservation (11 elements), rehabilitation (5 elements) and restoration (2 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan secara fisik yang terjadi pada bangunan Bale Tani dan Bale Bontar di Dusun Sade, kemudian menganalisis penyebab dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan tersebut. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode historis–kualitatif–deskriptif. Perubahan yang paling banyak muncul pada rumah tradisional, yakni pada perubahan pada ruang (denah) dan juga pada elemen pintu secara bentuk maupun material dan warna yang digunakan. Perubahan juga banyak terjadi pada fasade bangunan dengan adanya penambahan bukaan atau ventilasi sebagai jalur keluar masuknya udara. Elemen bangunan yang yang tidak berubah, yang masih dijaga keasliannya, yakni pada bentukan maupun material dan warna pada atap. Tidak dilakukan perubahan karena masyarakat sudah cukup nyaman dengan pemakaian atap tersebut. Atap merupakan bagian yang paling utama pada rumah karena atap mencerminkan rumah tradisional. Perubahan–perubahan yang terjadi tersebut dapat disebabkan oleh kebutuhan penghuni, kelangkaan material, kesehatan rumah dan penghuni, perkembangan pola pikir masyarakat (pendidikan tinggi), bertambahnya anggota baru, perawatan bangunan, adanya fungsi tambahan, kepraktisan pada pemakaian elemen bangunannya, kenyamanan penghuni, estetika bangunan, dan lain sebagainya. Faktor– faktor yang mempengaruhi perubahan, yakni faktor ekonomi, geografis, dan sosial budaya.
Kata Kunci : Perubahan bentuk fisik, Rumah Tradisional Sasak, Bale Tani, Bale Bontar.


ABSTRACT
This study aims to identify and analyze the physical changes that occur in buildings of Bale Tani and Bale Bontar Sade Village, then analyze the causes and that factors influence those of changes. The methods in this study are historical research - qualitative - descriptive. The most changes appear in traditional houses that are change at the space (layout) and also at the door elements on a form in spite of materials and colors used. Changes also take place in the building facade with the addition of openings or vents as pathways out of air entry. Building elements which are unchanged, which still maintained its authenticity, that is the formation as well as material and color to the roof. They are not changes because of people quite comfortable with the use of the roof. It is the most important part of the house because the roof reflects of the traditional house. The changes of building could be due to the needs of residents, the scarcity of materials, and occupants of the home health, community development mind side (higher education), the increase of new members, building maintenance, the presence of additional functionality, practicality in the use elements of the building, occupant comfort, aesthetics buildings, etc. The traditional houses changes because of economic, geographic, social and cultural.
Keywords: the changes in physical form, Sasak Traditional House, Bale Tani, Bale Bontar


Antariksa © 2011

Selasa, 04 Oktober 2011

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011 hlm. 1-14

POTENSI DAN MASALAH KAWASAN PECINAN

KEMBANG JEPUN KOTA SURABAYA


Kartika Eka Sari, Antariksa, Eddi Basuki Kurniawan

Minat Perencanaan Wilayah dan Kota Program Studi Teknik Sipil

Program Magister dan Doktor Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145

Email: kartika_plano@yahoo.co.id


A B S T R A K

Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakter fisik, sosial, ekonomi dan budaya Kawasan Kembang Jepun, menganalisis potensi dan masalah terkait pelestarian Kawasan Kembang Jepun dan menentukan strategi pelestarian Kawasan Kembang Jepun. Perkembangan dan eksistensi Pecinan semakin kuat pada masa pemerintahan Kolonial Belanda melalui pemberlakuan UU Wilayah (Wijkenstelsel) tahun 1843. Pada kondisi eksisting Kawasan Kembang Jepun memiliki penggunaan lahan perdagangan dan jasa (84,86%) dengan skala pelayanan nasional, regional dan kota, perumahan (14,71%), peribadatan berupa kelenteng (0.29%) dan kantor (0.14%). Jaringan jalan yang terdapat di wilayah studi terdiri dari jaringan jalan arteri sekunder, kolektor sekunder dan jalan lokal. Koridor Jl. Kembang Jepun memiliki nilai LHR sebesar 1012 smp/jam dengan kapasitas jalan sebesar 1799 smp/jam dan tingkat pelayanan C. Potensi yang dimiliki antara lain: Perkembangan guna lahan perdagangan dan jasa, ketersediaan void untuk pengoptimalan citra kawasan, arus koridor jalan utama Kembang Jepun stabil, keberadaan pedestrian way di pusat kawasan, ketersediaan massif untuk pengoptimalan citra kawasan, kesan ruang yang harmonis, keberadaan landmark Gerbang Kya-kya, mata pencaharian penduduk, kegiatan peribadatan, tradisi dan seni Tionghoa di Kawasan Kembang Jepun dan keberadaan etnis Cina dalam struktur masyarakat. Permasalahan yang dimiliki Kawasan Kembang Jepun antara lain keterbatasan lahan untuk parkir, belum ada penataan PKL, kurangnya pedestrian way, kurang optimalnya street furniture dan citra kawasan serta SK Cagar Budaya, kurangnya minat pemilik bangunan kuno serta tidak adanya penyuluhan teknis perawatan bangunan kuno dan penyelenggaran seni budaya Tionghoa.

Kata kunci: potensi, masalah, pecinan, Kembang Jepun


A B S T R A C T

The aim of this study are to identify pyhsical, social, economic and culture’s characteristic of Kembang Jepun, to analyze potention and issues related to Kembang Jepuns’s and to preserve and determined Kembang Jepun’s presevation concepts and strategies. Development and existence of Kembang Jepun was dominant in Dutch Colonial era through Region’s Law (Wijkenstel) enforcement in 1843. In existing, Kembang Jepun has 84,86% of trading and service land use with national, regional and city scale of service, 14,71% housing, 0,29% religion landuse and 0,14% office land use. Path system in Kembang Jepun consists of secondary artery, secondary collector and local path. Kembang Jepung corridor has 1012 smp/hour of LHR, 1799 smp/hour of capacity and scale of service in class C. Kembang Jepun’s potention are land use development, void and massif presence, harmonius scale of landscape, Kya kya gate presence, community working activities, religion activities of Tionghoa people and the presence of Tionghoa community. Issues of Kembang Jepun are space limitation for parking area, lack of pedestrian way, street furniture, area imag and Herritage’s Law are less than optimal, lack of building owner’s interest and also no maintenance technique of old building counseling and performance of China’s art and culture.

Key word: potention, issue, China Town, Kembang Jepun

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011 hlm. 15-27

PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KERATON BUTON


Novesty Noor Azizu, Antariksa, Dian Kusuma Wardhani

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145; Telp (0341) 567886

email: nov_27@ymail.com

ABSTRAK

Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kawasan bersejarah, mengidentifikasi dan menganalisis penyebab perubahan kawasan bersejarah dan menentukan arahan pelestarian kawasan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder), metode evaluatif (analisis faktor) dan metode analisis development. Hasil yang diperoleh, yaitu penggunaan lahan di kawasan saat ini menjadi lebih beragam namun tetap didominasi oleh permukiman dan ruang terbuka. Area sirkulasi yang terkait dengan aktivitas sosial dan budaya masyarakat masih tetap dipertahankan hingga kini. Kondisi bangunan bersejarah sebagian besar telah mengalami perubahan fisik. Faktor penyebab perubahan kawasan, yaitu pembangunan bangunan baru yang tidak selaras, kurang tegasnya pelaksanaan hukum dan peraturan tentang pelestarian, kurangnya peran aktif masyarakat, perubahan bangunan bersejarah, faktor sosial, faktor politik dan ekonomi. Faktor penyebab perubahan fisik bangunan bersejarah di kawasan, yaitu perubahan kepemilikan, kegiatan wisata, kurangnya kesadaran masyarakat, perubahan selera pemilik, kurangnya komitmen pemerintah, material bangunan dan faktor ekonomi. Berdasarkan hasil penilaian makna kultural bangunan diperoleh 6 bangunan bersejarah potensial tinggi, 61 bangunan potensial sedang dan 5 bangunan potensial rendah.

Kata kunci: kawasan bersejarah, penyebab perubahan, pelestarian

ABSTRACT

The aims of this study are to identify characteristic of historical sites, to identify and analyze the causes of historical sites changes and determines the act of historical sites preservation. This study used descriptive analysis method (observation and secondary data), evaluative method (factor analysis) and development method. The study found that the land use of these historical sites became more heterogenic but was still dominated by settlement area and open space. The circulation area for social and culture activity has been still maintained until now. Most of historical building had physical changes. The causes of historical sites changes were incompatible development of new building, less of implementation of preservation rules, less of people participation, changes of historical building, social factor, politic and economic factor. The causes of historical building changes were ownership changes, tourist activities, less awareness for preservation, owner preference changes, less of government commitment, building material, and economic factor. Based on the result of culture value scoring, the study showed that there were 6 high potential building, 61 medium potential building and 5 low potential building.

Key words: historical sites, causes of changes, preservation

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011 hlm. 28-38

PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN BANGUNAN KUNO

KORIDOR UTAMA KOTA LAMA AMPENAN

Riana Rizki Anindita Wiggers­, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia, Telp./fax. 62-341-7051558

E-mail: rianawiggers@yahoo.com

ABSTRAK

Sebagai Kota Pelabuhan yang potensial pada jaman kolonial Belanda, Kota Lama Ampenan memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi dan pengaruh kolonial yang sangat terasa terutama pada karakter fisik bangunan-bangunan yang ada pada kawasan tersebut. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganlisis karakteristik kawasan dan bangunan kuno di Kota Lama Ampenan. Metode yang digunakan adalah deskriptif, digunakan untuk mengetahui karakteristik kawasan Kota Lama Ampenan, yang terdiri dari karakteristik fisik dan non fisik; analisis pembobotan dengan metode skoring untuk menentukan aspek prioritas pelestarian non fisik, dan menentukan bangunan kuno yang potensial dilestarikan berdasarkan tujuh kriteria makna kultural (estetika, kejamakan, kelangkaan, kieluarbiasaan, peranan sejarah, keaslian, dan keterawatan). Berdasarkan penilaian aspek prioritas pelestarian non fisik, didapatkan prioritas pelestarian non fisik adalah aspek hukum dan ekonomi, yaitu perlunya pengadaan sebuah aturan hukum dan sebuah alokasi dana khusus, dan berdasarkan kriteria-kriteria makna kultural yang telah dilakukan dengan metode pembobotan, maka dapat diketahui bahwa dari 52 bangunan yang diteliti terdapat 10 bangunan dengan potensial tinggi untuk dilestarikan (preservasi), 13 bangunan dengan potensial cukup tinggi (konservasi), 21 bangunan dengan potensial sedang (rehabilitasi), dan 8 bangunan dengan potensial rendah (rekonstruksi).

Kata kunci: pelestarian lingkungan dan bangunan kuno, Kota Lama Ampenan.

ABSTRACT

As an potential seaport in the colonial era, the old Ampenan town has a high sufficient historical value and colonial influence that appear exquisite, especially on the physical characteristic of the buildings in that district. The aim of this study is to identify and analyze the district and the ancient buildings of old Ampenan. The method of this study is descriptive used to identify characteristic of old Ampenan district, which consist of physical characteristic and non physical characteristic; and quality analysis with scoring method to determinee priority aspectt of non physical conservation, and determine ancient building which potential to be conserved based on seven criteria of cultural meaning (aesthetics, plurality, peculiarity, historical role, building authenticity, maintenance). Based on the scoring of priority aspect of non physical conservation, can be found that the law and economy aspect is a priority in non physical conservation that comes with a law policy and a special budget alocation as an implemention, and based on criteria of cultural meaning that already carried out with ranking method, then can be found that from 52 buildings, there are 10 buildings in high potential score to be conserved (preservation), 13 buildings are in medium potential (conservation), 21 buildings in low-medium potential (rehabilitation), and 8 buildings in low potential (reconstruction).

Keywords: preservation of environmental and old buildings, old town Ampenan.

arsitektur e-Journal, Volume 4 Nomor 1, Maret 2011 hlm. 39-54

POLA TATA RUANG RUMAH TINGGAL KUNO

DESA BAKUNG KECAMATAN UDANAWU BLITAR

Siti Maria Ulfa, Antariksa, Ema Yunita Titisari

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Indonesia – Telp. (0341) 567886

E-mail: mar.mariaulfa@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan studi adalah untuk mengetahui pola tata ruang dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan pola tata ruang rumah tinggal kuno di Desa Bakung. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan historis. Hasil studi menunjukkan bahwa rumah-rumah kuno di Desa Bakung mempunyai pola yang memadukan konsepsi lama-modern dalam penataan ruangnya. Halaman rumah memiliki batas fisik maupun visual dengan rumah lainnya, sebab mempunyai fungsi sebagai persediaan lahan rumah anak dan kegiatan ekonomi. Rumah juga mempunyai orientasi berdasarkan arah mata angin, mempunyai tiga jenis dan susunan ruang yang kesemuanya berbentuk grid dan memiliki hirarki ruang dalam semakin ke belakang semakin privat serta semakin ke kiri semakin kotor. Perubahan pola terjadi untuk membuat fungsi baru, pengurangan fungsi yang dapat mengakibatkan perubahan jenis ruang, kesimetrisan, organisasi serta hirarki ruang. Ruang yang cenderung mengalami perubahan adalah ruang-ruang di gugus bale, dan pawon, sedangkan ruang yang sedikit mengalami perubahan dan cenderung tetap adalah ruang-ruang di dalam gugus omah, khususnya sentong tengah yang merupakan area paling sakral di dalam rumah. Perubahan tersebut antara lain dipengaruhi oleh kebutuhan dasar manusia, teknologi baru, gaya hidup, faktor ekonomi, system hak waris dan budaya.

Kata kunci: pola tata ruang, perubahan, Desa Bakung

ABSTRACT

The objection of this study is to identify the layout spacing with factors that triggered its changing on ancient houses in Bakung Village. The applied methods are descriptive analysis with historical approach. The result of this study showed that the layout spacing on ancient houses applied with the old-modern concept. The yard have visual and physical boundary, separate it from one to another, due to its function that aimed to be the land for children’s needs and economic activities. These ancient houses applied orientation based on three different windward, space composition is grid organized, and also applied space hierarchy of symmetric; the more we go inside the spaces, the more private it is, and the center side tends to be sacred, meanwhile the left side tends to be profane. Changing the layout spacing is done in order to add new functions therefore it affected on lessening the existed functions, which it changed the symmetrical, axes, organization and the space hierarchy. Spaces that tend to change significantly are spaces on gugus bale and pawon, meanwhile the least spaces that potentially changed are spaces on gugus omah, especially sentong tengah which are the most sacred area compared to other spaces in the house. The trigger factor that affected layout spacing changed on ancient houses in Bakung Village are basic human needs, new technologies, life style, economy factor, inheritance system and cultures.

Keywords: layout spacing, changes, Bakung Village

Antariksa © 2011