Minggu, 21 Desember 2014

arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014









ABSTRACT
Aceh Lhee Sagoe belongs to the area of Hindu Buddha Kingdom’s legacy which suceeded to be surrendered by Bandar Aceh Darussalam Empire which recently becomes the settlement for Aceh society. The legacy of Aceh Lhee Sagoe in the form of the three concepts toward the architecture object with the meaning of the relationship between human with God and nature. As for the uppermost is the existence of implementation concept of three chamber design with the balance meaning toward Rumoh Aceh that is very interesting to be observed.The problem that faced right now is the lack of existence of Rumoh Aceh after the incident of tsunami which happened in Aceh, as conflict and tsunami that will create worry as a matter of culture heritage will dissapear. The purpose of this study is to find the typology of space building in Rumoh Aceh as information for the society therefore it can take the benefit from the values of local wisdom, the variety and the architecture uniqueness of Rumoh Aceh. Using Qualitative Descriptive method that conducts observation directly toward the typology types of space building that formed. There are two types of downstairs chamber and upstairs chamber which represent the whole character of space or chamber in Aceh Lhee Sagoe.
Key words: thypology, building space, Rumoh Aceh, Aceh Lhee Sagoe


ABSTRAK
Aceh Lhee Sagoe merupakan kawasan peninggalan kerajaan Hindu Budha yang berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Bandar Aceh Darussalam yang saat ini menjadi mukim tempat tinggal masyarakat Aceh. Adanya peninggalan Aceh Lhee Sagoe berupa konsep tiga segi pada objek arsitektur dengan makna hubungan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan dan liingkungan. Adapun yang paling menonjol, yaitu dengan adanya penerapan konsep pola tiga ruang dengan makna keseimbangan pada Rumoh Aceh sangat menarik untuk dilakukan studi. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah minimnya keberadaan Rumoh Aceh pasca runtutan peristiwa yang terjadi di Aceh, seperti konflik dan tsunami yang dikhawatirkan warisan budaya semakin memudar. Tujuan dari studi ini untuk menemukan tipologi ruang bangunan Rumoh Aceh sebagai informasi bagi masyarakat agar dapat mengambil manfaat dari nilai kearifan lokal dan keberagaman serta keunikan arsitektur Rumoh Aceh. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap tipologi ruang bangunan yang terbentuk. Terdapat dua tipe ruang bawah dan lima tipe ruang atas yang mewakili keseluruhan karakter ruang di Aceh Lhee Sagoe.
Kata kunci: Tipologi, tata ruang.









ABSTRAK
Aktivitas ritual telah menjadi suatu tradisi dalam kehidupan masyarakat di nusantara. Salah satu tujuan dilaksanakannya ritual adalah untuk menghormati arwah leluhur seperti yang terjadi pada Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. Terdapat suatu keunikan pada aktivitas ritual yang dilaksanakan pada Pesarean Gunung Kawi, yaitu banyaknya jenis ritual yang diadakan dan beragamnya latar belakang kepercayaan dan budaya para pengunjung yang melakukan ritual. Hal tersebut berpengaruh pada ruang ritual yang digunakan pada pelaksanaan ritual. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya fleksibilitas ruang pada pelaksanaan ritual di Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. Metode yang digunakan pada studi ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi fleksibilitas ruang, yaitu pengguna ruang, jenis aktivitas ritual dan tingkat aksesibilitas suatu ruang.
Kata kunci: fleksibilitas, teritori, ruang ritual.


ABSTRACT
Ritual activity has been became tradition in society life in nusantara. One of the implementation ritual purposes is to respect the forefathers such in Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. There is a uniqueness in the ritual activity which implemented in Pesarean Gunung Kawi, which is many kinds of ritual are held and diverse background of beliefs and cultural of the visitors who do the ritual. It affects the ritual space which used during the rituals. The purpose of this study is to determine factors that affect the space flexibility during the rituals at Pesarean Gunung Kawi. The method that used in this study is qualitative descriptive research. The result of this study showed that the factors that affect the space flexibility is the person who do the ritual, kinds of ritual, and the level of accessibility of a space.
Keywords: flexibility, territory, space, ritual.








ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk menemukan dan mengidentifikasi karakter bangunan. Studi ini menggunakan metode deskriptif analisis, metode evaluatif (pembobotan), dan metode development. Karakter arsitektur kolonial di bangunan Gedung PT Perkebunan Nusantara XI (Eks Handels Vereeniging Amsterdam) adalah penggunaan simetri bilateral pada komposisi massa, tampak depan dan denah bangunan. Langgam bangunan adalah langgam eklektik yang dipengaruhi Art and Craft, Art Nouveu dan Art Deco. Perulangan elemen bukaan (jendela dan ventilasi) di sepanjang keliling selubung bangunan dengan pola a-a-a-a menimbulkan kesan formal-monoton. Penggunaan material marmer pada dinding hall lantai 1 dan lantai 2 yang menunjukkan karakter bangunan perkantoran, yaitu kuatnya kualitas visual hall sebagai pusat bangunan. Arahan pelestarian bangunan Gedung PT Perkebunan Nusantara XI (Eks Handels Vereeniging Amsterdam) terbagi menjadi tindakan preservasi (11 elemen), konservasi (14 elemen), rehabilitasi (13 elemen).
Kata kunci: pelestarian, bangunan bersejarah, strategi.


ABSTRACT
The aims of this study are to identify and find the characters of the building. This study used three methods, which are descriptive analysis method, evaluative method and development method. In this study, there found the colonial architectural characters in the Nusantara Plantation XI Company (Former of Handels Vereeniging Amsterdam) Building. Which consists of usage of bilateral symmetry that dominates building massing composition, on the façade and spatial arrangements? The style that used in this building is eclectic which affected by Art and Craft, Art Nouveu dan Art Deco, it is indicated by the ornaments applied almost on every elements, also the kinds of the so called ornaments. There is repetition of windows and ventilations that surround the outer sides of the building with a-a-a-a pattern; hence it caused a formal-monotone impression. The usages of marbles in the wall of first and second floor’s hall showed one of colonial offices, the strength of visual quality of Hall as center of the building. Conservation strategies for Nusantara Plantation XI Company (Former of Handels Vereeniging Amsterdam) Building are classified into preservation (11 elements), conservation (14 elements) and rehabilitation (13 elements).
Keywords: conservation, historical building, strategy.








ABSTRAK
Kota Madiun menjadi salah satu dari sekian kota kecil di Indonesia yang masih memiliki bangunan peninggalan Kolonial Belanda. Namun lambat laun bangunan kolonial Belanda di Kota Madiun semakin mengalami penurunan jumlah maupun kualitas visual bangunannya. Rumah dinas Bakorwil menjadi salah satu dari sedikit bangunan Kolonial Belanda yang masih bertahan di Kota Madiun. Tujuan studi ini untuk menentukan arah tindakan pelestarian fisik bagi fasade bangunan rumah dinas Bakorwil Kota Madiun. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode analisis kualitatif menggunakan pendekatan dengan tiga metode, yaitu metode deskripsi analisis, metode evaluatif dan metode development. Hasil studi menunjukkan beberapa elemen-elemen visual bangunan rumah dinas Bakorwil telah mengalami beberapa perubahan namun karakter visual dari bangunan tetap dapat diketahui melalui observasi yang dilakukan pada objek studi. Arahan pelestarian bagi elemen-elemen visual bangunan diklasifikasikan menjadi tiga potensial, yaitu potensial rendah, sedang dan tinggi kemudian dari tiga tingkatan potensial tersebut ditentukan tindakan pelestarian yang akan dilakukan.
Kata Kunci: bangunan kolonial, elemen visual, pelestarian bangunan


ABSTRACT
Madiun city became one of the small cities in Indonesia, which still has a Dutch Colonial building. But gradually the Dutch colonial building in Madiun city as well as the more experienced a decline in visual quality of the building. Home Office Bakorwil be one of the few Dutch colonial buildings that still survive in Madiun city. The purpose of this study is to determine a course of action for the physical preservation of the home office building façade Bakorwil Madiun. The method used in this study is a qualitative analysis method used approach with three methods, namely the description of the analysis, evaluative methods and development method. The results showed some visual elements Bakorwil building official residence has undergone some changes but the visual character of the building remains can be seen through the observations made on the objectof research. Referrals for the preservation of the visual elements are classified into three potential building potential is low, medium and high then the potential of the three levels specified conservation measures to be undertaken.
Keywords: colonial building, visual elements, wildlife building






muhammadrifqi45@yahoo.com


ABSTRAK
Manusia mempunyai naluri dan akal untuk mempertahankan dirinya yang diwujudkan dengan aktivitas seperti makan, beribadah, beristirahat. Semua aktivitas ini memperlukan tempat berupa ruang. Manusia juga memiliki kebutuhan sosial yang juga memperlukan ruang, karena hakikat manusia sebagai makhluk sosial, sehingga dapat disimpullan bahwa, ruang sosial merupakan ruang yang tidak dapat dilepaskan dari ilmu arsitektur maupun kehidupan manusia. Terbentuknya 11 tipe Rumah Tradisional Banjar tidak dapat dilepaskan dari aspek sosial. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis ruang sosial pada rumah tradisional Baanjungan. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif kualitatif yang membantu dalam proses mengidentifikasi dan menganalisis ruang sosial rumah Baanjungan secara langsung dengan pendekatan naturalistik. Hasil studi menunjukan bahwa terdapat beberapa unsur pembentuk ruang sosial dalam rumah Baanjungan, namun yang paling penting merupakan unsur non fixed berupa aktivitas.
Kata kunci: ruang sosial, aktivitas, rumah Baanjungan.


ABSTRACT
Human have instinct and mind to defend him that realized with activity like eat, worship, rest and etc. All of this activity needs some space. Human also have social needs that also need space, because of human nature as social creature, so that can concluded social space is space cannot be separated from architecture or human life. Formation of 11 type Banjar tradicional house cannot be separated from social aspect. This method of this study use descriptif qualitative that help processing on identificating and analyzing on social space of Baanjungan house directly with a naturalistic approach. The results of the study show that there are some elements forming social space in the Baanjungan house, but the most important element is the non-fixed elements such as activity.
Keywords: social space, activity, Baanjungan house.


Antariksa © 2014

arsitektur e-Journal, Volume 6 Nomor 2, November 2013








ABSTRAK

Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan menentukan karakter bangunan stasiun kereta api Probolinggo dan kemudian menentukan strategi pelestarian yang dapat dilakukan terhadap bangunan stasiun kereta api Probolinggo. Metode analisis data yang digunakan pada studi ini, yaitu metode deskripsi analisis, metode evaluatif dan metode development. Ketiga metode tersebut digunakan untuk membahas rumusan masalah yang telah ditentukan. Dalam studi ini ditemukan bahwa karakter bangunan stasiun kereta api Kota Probolinggo ditentukan oleh beberapa elemen, yaitu elemen fasade (atap, dinding eksterior, pintu, jendela, dan kolom), dan elemen ruang dalam (dinding interior, pintu, jendela, lantai, langit-langit, dan kolom). Setelah karakter bangunan ditemukan selanjutnya digunakan metode evaluatif untuk menetapkan beberapa elemen bangunan yang mempunyai nilai potensial tinggi, sedang dan rendah. Berdasarkan hasil tersebut ditentukan strategi pelestarian yang sesuai dengan kondisi masing-masing elemen bangunan.
Kata kunci: strategi, pelestarian, stasiun Kota Probolinggo


ABSTRACT

This study aims to analyze and determine the character the building of Probolinggo railway station and then determine which preservation strategies can be made ​​to the building of Probolinggo railway station. The methods of data analysis which used in this study are included of analysis description method, evaluative method and development method. These methods used to overcome the problem that had been predetermined. In this study it is found that the character of the building Probolinggo City railway station determined by several elements, namely the facade elements (roof, exterior walls, doors, windows, and columns), and the elements in space (interior walls, doors, windows, floors, ceilings, and columns). After finding the character of buildings, evaluative method used to find and determine some elements of the building which had a high, medium, and low potential value. Based on this determination, the preservation strategy would be determined which is suitable with the conditions of each building element.
Keywords: strategy, preservation, Probolinggo station







ABSTRAK
Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi potensi kesejarahan kawasan Pabrik Gula Watoe Toelis Sidoarjo, menganalisis evaluasi kerusakan/perubahan objek dan makna kultural kawasan, serta menganalisis dan menentukan arahan pelestarian dalam mempertahankan kawasan. Studi ini juga menjelaskan adanya adat budaya kawasan, sinkronik diakronik kawasan, karakteristik keterkaitan struktur organisasi Pabrik Gula Watoe Toelis terhadap peletakan bangunan. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi untuk mengidentifikasi potensi kesejarahan kawasan, metode evaluatif untuk menganalisis evaluasi kerusakan/perubahan objek dan makna kultural kawasan, dan metode development menganalisis dan menentukan arahan pelestarian dalam mempertahankan kawasan. Faktor utama dalam evaluasi kerusakan/perubahan objek/penyebab perubahan bangunan kuno dan makna kultural kawasan adalah bahan bangunan tidak tahan lama, selera pemilik, kurangya perangkat hukum, kurangnya perawatan, kerusakan akibat perkembangan bangunan, ekonomi, dan sosial budaya. Arahan pelestarian fisik dilakukan berdasarkan klasifikasi penilaian makna kultural bangunan. Tindakan pelestarian potensial rendah dilakukan rehabilitasi sebesar 13 bangunan, potensial sedang dilakukan pelestarian restorasi 53 bangunan, dan potensial tinggi tindakan preservasi sebesar 28 bangunan. Konsep pelestarian secara non fisik dengan menggunakan konsep yang berupa arahan aspek-aspek kesadaran dan inisiatif, dasar hukum, konsep dan rencana, pelaksanaan dan organisasi, dan pendanaan.
Kata kunci: pelestarian, evaluasi kerusakan, perubahan objek, kawasan pabrik gula







ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakter bangunan RS.HVA Toeloengredjo Pare-Kediri yang meliputi karakter spasial, visual, dan struktural bangunan, menganalisis dan menentukan strategi arahan pelestarian bangunan RS. HVA Pare. Metode analisis data yang digunakan pada studi  ini, yaitu metode deskriptif analisis, evaluative, dan development. Hasil dari analisis tentang karakter visual  bangunan  rumah  sakit HVA  Pare  ini, di dominasi bentukan geometri. Ciri visual pada bangunan rumah sakit ini yang paling menonjol sampai saat ini adalah fasade bangunan yang memiliki pola simetri. Penggunaan elemen-elemen bangunan dengan ukuran besar dan ornament-ornamen menggambarkan bangunan rumah sakit tersebut merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Ciri spasial bangunan, terjadi perubahan, yaitu penambahan beberapa ruang dengan alasan memenuhi kebutuhan ruang pihak rumah sakit. Ciri struktural  terlihat  pada  bangunan  asli  peninggalan kolonial  yang sampai  saat ini menggunakan dinding dengan ketebalan satu bata dan penggunaan  modul struktur. Arahan pelestarian bangunan untuk rumah sakit HVA Pare ini diklasifikasikan berdasarkan tiga kelas, yaitu elemen bangunan potensial rendah, sedang, dan tinggi. Setelah ditentukan berdasarkan tingkat elemen bangunan potensial, maka setelah itu ditentukan strategi arahan pelestarian banguna sesuai dengan kondisi masing-masing.
Kata kunci: karakter aristektural, bangunan kolonial, pelestarian bangunan.


ABSTRACT
The objective  of the study is to identify and to analyze the spatial, visual and structural  characters of the building of RS HVA Toeloengredjo Pare-Kediri, and to analyze and to determine the strategy for the conservation of RS HVA Pare. Data analysis tools are descriptive, evaluative and development methods. Result of the analysis over the visual character of HVA Pare Hospital building indicates the dominance of geometry. The prominent visual character of this hospital building is the symmetric pattern of building façade. The great size of building elements and the use of ornaments declare the presence of hospital building as the legacy of Netherland colony age. Spatial character  of this  building  is changing  with  additional rooms  to satisfy  the  demand  of hospital  room. Structural character of the genuine colonial building is still persisted, which is shown by the use of one-brick wall thickness and structure module. The direction for the conservation of RS HVA Pare is classified into three classes, which are low, medium and high potential building elements. The determination of potential building element will facilitate the setting of strategy to direct the conservation of building based on the immediate condition.
Keywords: architectural character, colonial building, building conservation


Antariksa © 2013