Sabtu, 13 Februari 2010

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009

arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 142-159


PELESTARIAN KAWASAN ALUN-ALUN KOTA MALANG


Dindar Rahajeng, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia

Telp. 62-341-567886; Fax. 62-341-551430

Email: ajeng_namaku@yahoo.com


ABSTRAK

Alun-alun merupakan identitas kota maupun kabupaten di Jawa pada umumnya. Konsep keruangan alun-alun merupakan simbol kesatuan aktivitas yang bersifat filosofis-religius, politis, ekonomis dan kultural, namun dalam perkembangannya dari jaman kerajaan hingga sekarang selalu mengalami perubahan maupun pergeseran makna. Kawasan Alun-alun Kota Malang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Malang pada jaman dulu sekaligus merupakan lokasi awal pertumbuhan wilayah Malang. Identifikasi terhadap sejarah dan perkembangan kawasan Alun-alun Kota Malang dilakukan untuk menemukan potensi pelestarian pada kawasan alun-alun, sebagai wujud menghargai warisan budaya, perwujudan identitas dan mewarisi nilai sejarah. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis sinkronik diakronik perkembangan kawasan serta potensi pelestarian dengan penilaian makna kultural, nilai guna serta perkembangan kawasan. Kebijakan politik yang berpengaruh terhadap perkembangan kawasan alun-alun di antaranya: Staadblad 1819 No. 16, kebijakan UU Gula dan UU agraria (1870) UU desentralisasi (1903) serta proklamasi kemerdekaan RI. Ditinjau dari aspek politik perkembangan kawasan alun-alun terlihat pada perubahan massa bangunan, gaya bangunan dan fungsi bangunan. Ditinjau dari aspek ekonomi perkembangan kawasan alun-alun terlihat pada perubahan guna lahan, fungsi bangunan, kondisi fisik alun-alun serta aktivitas. Ditinjau dari aspek sosial budaya perkembangan kawasan alun-alun terlihat pada perubahan aktivitas, gaya bangunan serta citra kawasan. Potensi pelestarian di Kawasan Alun-alun Kota Malang ditemukan pada bangunan Hotel Riche, Toko Oen, Gereja Hati Kudus, Mall Sarinah, Kantor Pajak Pratama, Bank Indonesia, Kantor Kabupaten, Pendopo Kabupaten, Hotel Santoso, Kantor KPPN, Hotel Pelangi, Bank Mandiri, Masjid Jami’, Kantor Sekretariat Masjid Jami’, Gereja Imanuel, dan alun-alun.

Kata kunci: alun-alun, perkembangan kawasan, pelestarian


ABSTRACT

Alun-alun is common identity open space in many cities in Java. Spatial concept of alun-alun reflects a symbol integration of philosophical, religious, political, economical and cultural activities. The development of alun-alun Malang from the royal age throughout recent days indicates the modification of meaning. District of Alun-alun Malang refered to the core of the old government of Malang Regency and also become an early point of Malang growth. The identification with the history and the development of alun-alun district was the aim for finding the preservation aspect as an effort to appreciate urban heritage, preserve local identity, and history. The methods include descriptive analysis to identify characteristic of alun-alun district, sinkronik-diakronik analysis in order to explain the district development and analysis of cultural value and use value to find the potential preservation. Political policies affecting the development of alun-alun district involve: Staadblad 1819 No.16, Sugar Act and Agrarian Act (1870), Decentralization Act (1903) and Independence Proclamation of Indonesian Republic. Considering the political aspect the development of alun-alun district was seen by the change of building mass, building use and building style. Based on economical aspect the development of alun-alun district was seen by the change of land use, building use, form and pattern of alun-alun and activity. The social and cultural aspect indicated the change of activity, building style and image around the district. The preservation of alun-alun district was seen prominent by the existence of Riche Hotel, Oen Store, Hati Kudus Church, Sarinah Mall, Pratama Tax Office, Bank of Indonesia, Regency Office, Regency Mansion, Santoso Hotel, KPPN Office, Pelangi Hotel, Mandiri Bank, Great Mosque, Secretariat Office of Great Mosque, Immanuel Church, and alun-alun.

Key words: alun-alun, district development, preservation


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 160-178


POLA PERMUKIMAN KAMPUNG KAUMAN KOTA MALANG


Ekahayu Rakhmawati, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145

Telp. 62-341-567886; Fax. 62-341-551430

Email: ekahayu_planology@yahoo.co.id


ABSTRAK

Sejarah Islam di Indonesia telah menyisakan peninggalan/karya budaya yang berharga. Permukiman sebagai salah satu hasil budaya pada masa (kerajaan) Islam telah membentuk identitas lingkungan (district) yang turut memperkaya wajah kota secara keseluruhan. Kauman sebagai permukiman lslam merupakan suatu usaha untuk menggambarkan pola spasial Kauman sebagai permukiman islami (Islamic Village) berdasarkan peninggalan sejarah Islam di Jawa (kerajaaan Islam Mataram). Keseluruhan studi ini dapat dibagi menjadi tiga bagian besar yang meliputi penggambaran karakteristik pola permukiman Kampung Kauman Kota Malang, pola spasial permukiman dan pengaruh pembentukannya, serta membuat rekomendasi arahan penataan Kampung Kauman Kota Malang. Hasil studi berupa komponen yang menunjang terbentuknya permukiman, komponen-komponen yang tidak menunjang dan komponen-komponen koreksi atau pengayaan terhadap komponen yang telah dibuat secara konseptual (studi sebelumnya). Pembangunan lingkungan permukiman Kauman pada masa mendatang diharapkan dapat memperkuat identitas Kauman sebagai kampung islami (dengan memperhatikan komponen yang menujang keislaman), tanpa merusak nilai sejarah dan citra lingkungan sebagai salah satu komponen kawasan peninggalan pusat kota kerajaan/kadipaten. Untuk mencapai permukiman islami yang optimal, maka sangat penting untuk mempertimbangkan unsur budaya lokal dan karakteristik masyarakat dalam perumusan komponen perumahan islami.

Kata kunci: pola perumahan, Kampung Kauman, pelestarian.


ABSTRACT

Indonesian Islamic history was leaving priceless heritage. Housing as the one of heritage asset at the age of Islamic empire was formalize enviroment identity, that also enrich face of the city roundly. Kauman as Islamic village is an effort to describe Kauman spatial pattern as Islamic village, based on Islamic heritage on Java (Mataram Islamic empire). Over all this study can be divided into three major parts, that cover characteristic presentment of malang city’s ‘Kampung Kauman’ housing pattern, the spatial housing pattern and it’s establishment, and also recommend the guidance of Malang city’s ‘Kampung Kauman’ arrangement. Final results of the study are the elements that support village establishment, non support elements, and correction elements or enrichment of the element that have been made conceptually (the previous study). In the future, development of Kauman housing enviroment expected to strenghten Kauman identity as Islamic village, without ruin the history values and enviroment image as the one of empire city central area element. To achieve the best Islamic housing, it’s very important to consider local culture element and people characteristic under the fomularization of Islamic housing element.

Key words: housing pattern, Kampung Kauman, perpetuation.


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 179-190


PERUBAHAN KAWASAN PECINAN KOTA TUA JAKARTA


Mauliandini Nur Noviasri, Antariksa, Fadly Usman

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjend Haryono 167 Malang 65145 – Telp. (0341) 567886; Fax. (0341) 551430.

e-mail: andiniasri@gmail.com


ABSTRAK

Kawasan Pecinan Kota Tua Jakarta merupakan salah satu kawasan perdagangan tertua dan terbesar di Kota Jakarta bahkan di Asia Tenggara. Namun karena memiliki fungsi sebagai kawasan perdagangan maka hal tersebut dapat mengancam keberadaan bangunan cagar budaya yang banyak digantikan oleh bangunan modern. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan Kawasan Pecinan Kota Tua Jakarta menggunakan metode deskriptif (observasi lapangan dan data sekunder); dan untuk menganalisis faktor perubahan kawasan menggunakan metode deskriptif evaluatif (sinkronik diakronik dan analisis faktor). Hasil studi didapatkan bahwa terjadi perubahan pada node, path, district dan edge, tetapi tidak terjadi perubahan pada landmark. Untuk bangunan terdapat 47 bangunan yang mengalami perubahan besar, 20 bangunan perubahan sedang dan 17 bangunan yang tidak mengalami perubahan. Pada sinkronik-diakronik faktor yang mempengaruhi perubahan lingkungan dari masa ke masa adalah faktor ekonomi, politik dan sosial budaya. Untuk bangunan terbentuk 3 faktor, yaitu faktor bangunan, faktor eksternal, dan faktor pemilik.

Kata kunci : perubahan lingkungan, bangunan cagar budaya, Kawasan Pecinan


ABSTRACT

The Jakarta ancient Chinatown area is represented one of the biggest and eldest commerce area in Jakarta city and even in South-East Asia. However cause have a function as commerce area therefore can menace the existence of the cultural heritage buildings which replaced by many modern buildings. The aim of this study is to identify the changing of ancient Chinatown area in Jakarta used descriptive method (field observation and secondary data); and to analyze the changing factor area used evaluative descriptive method (synchronic – diachronic and factor analysis). The result of this study is acquired to arise the changing on node, path, district and edge, but there is changeless in landmark. For the buildings enclose of 47 buildings which to realize in large change, 20 buildings to realize in moderate change, and 17 buildings to realize changeless. At the synchronic – diachronic, the influence of environment changing factors from period to period are economic, politic, and socio-cultural. For the buildinsg is formed in 3 factors there are the building factor, external factor and the owner factor.

Keywords: environment change, cultural heritage buildings, Chinatown area


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 191-207


PELESTARIAN POLA PERMUKIMAN MASYARAKAT USING

DI DESA KEMIREN KABUPATEN BANYUWANGI


Tri Kurnia Hadi Muktining Nur, Antariksa, Nindya Sari

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia, Telp./fax. 62-341-7051558

E-mail: trikurnia_bwi@yahoo.com


ABSTRAK

Using adalah salah satu suku bangsa Indonesia yang hanya terdapat di Kabupaten Banyuwangi. Seiring dengan perkembangan jaman mengakibatkan permukiman Using semakin berkurang. Wilayah yang masih mempertahankan adat dan istiadat Using adalah Desa Kemiren. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik pola permukiman masyarakat Using yang berada di Desa Kemiren. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode deskriptif eksploratif. Hasil studi menunjukkan bahwa pola permukiman makro terbentuk akibat adanya pengaruh sosial budaya, fisik bangunan, guna lahan dan ruang-ruang budaya secara makro. Kegiatan sosial budaya dan religi masyarakat yang bersifat rutin dan menggunakan ruang yang bersifat tetap, dapat membentuk suatu pola ruang dalam permukiman secara temporer yang diantarnya adalah ruang rumah, pekarangan, sanggar kesenian, jalan dan sumber mata air. Dalam skala mikro, pola permukiman dipengaruhi oleh orientasi kosmologis bangunan yang menghadap ke jalan utama desa dan berorientasi utara-selatan; struktur bangunan yang diidentifikasi melalui tipe atap dan pola ruang dalam rumah; serta tata letak bangunan yang berkaitan dengan sistem kekerabatan. Topografi wilayah yang bergelombang mengakibatkan pengelompokan permukiman di wilayah yang landai, yaitu di bagian tengah wilayah desa. Kecenderungan perkembangan permukiman dari tahun ke tahun adalah memusat di sepanjang jalan utama yang dikelilingi oleh wilayah pertanian.

Kata kunci: pelestarian, pola permukiman, Using


ABSTRACT

‘Using’ is one of the Indonesian ethnic groups concentrated in Banyuwangi Regency. The settlement of ‘Using’ community has decreased nowadays. Kemiren Village is one of district in Banyuwangi Regency which maintain ‘Using’ tradition. The objective is to identify settlement pattern characteristics of ‘Using’ community in Kemiren Village. The method used in this study is descriptive explorative. The result shows that macro settlement pattern is formed by socio cultural, building physically, land use and cultural spaces in a macro manner. Socio cultural and religion activity could form space pattern temporarily in the settlement, such as house, yard, art workshop, main road and water spring. In micro scale, the settlement pattern was affected by the cosmological orientation of the building which face the main road and North-South orientation; the building structure identified through roof type and space pattern inside building; also the layout of the building related kinship system. Surging landscape made the settlement centered into the flatter area, in the middle of territory. The settlement grows tend to agglomerate along main road was surrounded by agriculture area.

Key words: preservation, the settlement pattern, ‘Using’


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 208-228


PELESTARIAN POLA PERMUKIMAN TRADISIONAL SUKU SASAK

DUSUN LIMBUNGAN KABUPATEN LOMBOK TIMUR


Rina Sabrina, Antariksa , Gunawan Prayitno

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Telp. 62-341-7051558

Email: sabrina_plano@yahoo.com


ABSTRAK

Karakter suatu suku dapat dilihat dari tradisi dan budaya terbentuk dalam suatu permukiman yang masih menjaga local wisdomnya. Ini terlihat dari permukiman tradisional yang terdapat pada Suku Sasak di Dusun Limbungan, dan mereka masih menjaga rumah adatnya dari segala bentuk perubahan. Tujuan studi adalah untuk mengidentifikasi karakteristik non fisik sosial budaya masyarakat, mengidentifikasi karakteristik fisik pola tata ruang permukiman yang terbentuk, menganalisis pola tata ruang permukiman tradisional yang terbentuk akibat pengaruh fisik, non fisiknya, dan kearifan lokalnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif. Hasil studi menunjukkan bahwa konsep keruangan makro yang terbentuk dari tatanan fisik lingkungan hunian memperlihatkan adanya pembagian ruang permukiman berdasarkan guna lahan, yaitu tempat hunian di bagian tengah, dan lahan pertanian di bagian luar area permukiman. Struktur ruang permukiman tradisional Suku Sasak Limbungan terbentuk berdasarkan konsep filosofi, yaitu konsep arah sinar matahari, konsep terhadap Gunung Rinjani, konsep pembangunan rumah dan elemennya secara berderet, tanah berundak-undak, dan konsep bentuk rumah yang seragam terdiri dari rumah yang berjajar (suteran). Penempatan elemen rumah (Bale) berupa panteq memiliki posisi saling berhadapan dengan Bale. Pola pengembangan tata ruang masyarakat Sasak di Dusun Limbungan berorientasi pada nilai kosmologi berdasarkan sistem kepercayaan dan tradisi-tradisi masyarakat yang berbasis budaya dan menghasilkan ruang-ruang khusus.

Kata kunci: pola, permukiman tradisional, Sasak Limbungan, sosial budaya


ABSTRACT

The characteristics of an ethnic can be seen from the tradition and culture be formed in a settlement which are still protecting by their local wisdom. It can be seen in traditional settlement of the Sasak ethnic in Limbungan village, where they still waking their traditional house from all changes. The aim of this study is to identify the non physical of social culture characteristics of the community, and to identify the physical characteristics of the pattern layout of the settlement that formed, as well as analyses the pattern of the layout of the traditional settlement resulting from the influence of the culture social system of their community's, and even their local wisdom. The method used in this study is descriptive-evaluative. All data collected through field observation, questionnaires and in-depth interview. The study shown that the spatial concept is formed by physical characters of the settlement indicates a division of land use; housing area is located in the center of settlement, and farming area is located outside of the housing area. Traditional structure space settlement of the Sasak Limbungan ethnic is formed based on the philosophical concepts, the direction of the sun rays concept, against the mountain Rinjani concept, the development of the house and his element in a lined-up manner concept, and form of the house that uniform consists of the lined-up house (suteran) concept. The allocation elements of the house (Bale) take form of panteq have the position face each other with Bale. The pattern of development of layout community Sasak in Limbungan village is oriented in cosmology value based on belief system and the community's traditions which based on culture and producing special spaces.

Key words: pattern, traditional settlement, Sasak Limbungan, social culture


arsitektur e-Journal, Volume 2 Nomor 3, November 2009 hal. 229-241


PELESTARIAN POLA PERMUKIMAN DI DESA ADAT BAYAN

KABUPATEN LOMBOK UTARA


Adhiya Harisanti Fitriya, Antariksa, Nindya Sari

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Jl. Mayjen Haryono 167 Malang 65145, Indonesia, Telp. 62-341-7051558

Email: adhiyaharisanti@yahoo.co.id


ABSTRAK

Desa Adat Bayan merupakan salah satu desa tradisional di Pulau Lombok yang masih menjalankan dan menjaga adat istiadat kehidupan asli Suku Sasak-Bayan. Pola permukiman mengelompok di Desa Adat Bayan terbentuk oleh kondisi alam yang berbukit-bukit dan berdasarkan sistem kekerabatan yang kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi karakteristik pola permukiman di Desa Adat Bayan dan mengidentifikasi permasalahan pelestarian pola permukiman. Metode yang digunakan adalah deskriptif-eksploratif. Hasil studi diketahui bahwa pola permukiman di Desa Adat Bayan terdapat pembagian wilayah berdasarkan stratifikasi sosial kemasyarakatannya. Adanya awig-awig adat Bayan yang mengatur pembentukan pola perumahan sebagai bagian dari pola permukiman di Desa Adat Bayan. Selain itu, terdapat pola ini juga terbentuk berdasarkan kegiatan adat yang masih dilaksanakan masyarakat Desa Adat Bayan.

Kata kunci: pola permukiman, Sasak-Bayan, pelestarian


ABSTRACT

Bayan Village is one of traditional villages in Lombok Island that keeps the custom of Sasak-Bayan tribe. The settlement pattern in Bayan Village is formed by mountainous geographical condition and kinship. The objectives of this reseach are to identify the characteristic of settlement pattern in Bayan Village and to identify the problem of settlement pattern’s conservation. The method used in this reseach is descriptive-explorative. The results show that settlement pattern in Bayan Village is based on community’s social stratification. The presence of Bayan’s awig-awig, controlls the establishment of housing pattern as part of settlement pattern. Beside that, the pattern is also formed by traditional activities upheld by the community of Bayan Village.

Key words: the settlement pattern, Sasak-Bayan, conservation


Copyright 2010 © by Antariksa

0 komentar: